<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsumen Dot Org &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://www.konsumen.org/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsumen.org</link>
	<description>Suara dan Media untuk Konsumen Demi Kemajuan Bisnis Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Oct 2011 05:13:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Kecewa Akan Jasa Penanganan Tenant Gading Mediterania Residences</title>
		<link>http://www.konsumen.org/kecewa-akan-jasa-penanganan-tenant-gading-mediterania-residences/</link>
		<comments>http://www.konsumen.org/kecewa-akan-jasa-penanganan-tenant-gading-mediterania-residences/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 15:10:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gading Mediterranean Residences]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsumen.org/kecewa-akan-jasa-penanganan-tenant-gading-mediterania-residences/</guid>
		<description><![CDATA[Apartemen hakekatnya adalah sebuah kawasan perumahan. namun mempunyai ruang vertikal, sehingga elemen-elemen pembentuknya juga sama dengan sebuah kawasan perkotaan yang tidak terlepas pada keunggulan SDM dalam pemeliharaan apartement. Detail Berita Acaranya: Teringat hari Sabtu, 12 Juni 2010, keluarga akan datang berkunjung ke unit kami yang baru, maka hari ini jumat, 11 juni 2010 saya dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Apartemen hakekatnya adalah sebuah kawasan perumahan. namun mempunyai ruang vertikal, sehingga elemen-elemen pembentuknya juga sama dengan sebuah kawasan perkotaan yang tidak terlepas pada keunggulan SDM dalam pemeliharaan apartement.</p>
<p><strong>Detail Berita Acaranya: </strong><br />
Teringat hari Sabtu, 12 Juni 2010, keluarga akan datang berkunjung ke unit kami yang baru, maka hari ini jumat, 11 juni 2010 saya dan suami datang ke manajemen apartemen minta di buatkan WO (working order) buat bor untuk lubang kabel antena TV di dinding kamar master room dan kamar tamu. Jujur hari ini aku sengaja bangun lebih pagi daripada biasanya, aku bangun jam 09.00 pagi, langsung telepon maintenance apartement dengan Bapak Agus sbg teknisi. Dari pembicaraan, kami di suruh membuat WO terlebih dahulu ke manajemen building. Saat sudah beres prosedurnya, kami menunggu di unit, karena kata Bapak Supri sebagai supervisor teknik yang lewat telepon kami bicara di depan mbak Dara sbg Cust Service, bahwa nanti satu orang yang akan membantu pekerjaan itu. Katanya lagi, kebetulan sedang tidak ada pekerjaan dan segera bisa dikerjakan.</p>
<div>Saya menunggu di unit, setelah 45 menit, akhirnya datang orang tehniknya, namun tidak sesuai yang dibicarakan di telepon dengan bpk Supri. Yang datang dua orang dan di dalam WO tidak tertera berapa yang harus di bayar. Tanpa komando yang jelas dari pemilik unit, yang mereka kerjaan sebatas yang mereka anggap benar, dan tidak menanyakan lebih detail kemauan dari pemilik unit.</div>
<div>Selang waktu 30 menit dari pengerjaan kabel antena TV yang menurut mereka sudah selesai, mereka tanpa menerangkan detail hasil pekerjaannya langsung meninggalkan kami, barang tergeletak tidak dirapihkan dan dengan gampang mengatakan akan kembali setelah sholat jumat. Setelah mereka kembali, kami putuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan tersebut dan mengeluarkan uang sebesar RP 75.000,-</p>
<p>Saya dan suami sudah kecewa sekali dengan tenant GMR yang tidak transparan dan tidak konduktif.</p>
</div>
<p><br class="final-break" style="clear: both;" /></p>
<p><strong>Renawati Saurmauli</strong><br />
Jl. Boulevard Bukit Gading Raya<br />
Jakarta Utara, 14240</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsumen.org/kecewa-akan-jasa-penanganan-tenant-gading-mediterania-residences/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indovision dan Sistem Pelayanan yang Jenius</title>
		<link>http://www.konsumen.org/indovision-dan-sistem-pelayanan-yang-jenius/</link>
		<comments>http://www.konsumen.org/indovision-dan-sistem-pelayanan-yang-jenius/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 07:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Indovision]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsumen.org/indovision-dan-sistem-pelayanan-yang-jenius/</guid>
		<description><![CDATA[Saya berlangganan Indovision sejak Astro mati. Saya memaksakan berlangganan televisi berbayar karena saya tidak tahan menonton TV lokal yang isinya hanya iklan, tayangan kekerasan, cerita cerai selebriti dan kebodohan ala sinetron. Mau jadi apa anak saya diberi tontonan seperti itu. Ya sudah, saat Astro resmi mati, saya langsung mendaftar Indovision. Saya tahu Indovision bukan pilihan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="clear: both;">Saya berlangganan Indovision sejak <a title="Astro Mati" href="http://www.konsumen.org/resmi-astro-mati/" target="_blank">Astro mati</a>. Saya memaksakan berlangganan televisi berbayar karena saya tidak tahan menonton TV lokal yang isinya hanya iklan, tayangan kekerasan, cerita cerai selebriti dan kebodohan ala sinetron. Mau jadi apa anak saya diberi tontonan seperti itu. Ya sudah, saat Astro resmi mati, saya langsung mendaftar Indovision. Saya tahu Indovision bukan pilihan yang terbaik (makanya waktu itu kami milih Astro), tapi karena tidak ada pilihan lagi, ya Indovision akhirnya jadi pilihan terbaik.</p>
<p style="clear: both;">Ketika mendaftar, seperti biasa, proses administrasi tidak pernah muncul masalah. Setelah bayar-membayar, teknisi Indovision mengirimkan parabola dan memasangkannya. Tetapi setelah dipasang, kami harus menelepon bolak-balik agen Indovision di Bali, kantor cabang di Bali, dan kantor di Jakarta hanya sekedar memohon untuk mengaktifkan TV langganan kami yang sudah kami bayar di muka. Setelah sekitar sebulan menelepon setiap hari, dan diajarkan main pingpong<sup id="fnref-2010-03-26-13-46-58" style="line-height: 0px; font-size: smaller; vertical-align: super;"><a style="line-height: 0px;" href="#2010-03-26-13-46-58">1</a></sup> , akhirnya Indovision nyala. Saya ingat, kami sekeluarga seperti menemukan keajaiban yang datang dari Surga. INDOVISION NYALA! WOW HEBAT! Horeeee!</p>
<p style="clear: both;">Sejak nyala, masalah demi masalah datang. Dan penanganan-penanganan, yang saya percaya bukan kesalahan karyawan Indovision, tetapi sistem yang ada untuk memecahkan masalah pelanggan pun kami terima. Saya sudah lupa detilnya. Saya lupakan. Karena saya cukup mampu untuk mengerti bahwa memang tidak ada yang sempurna, termasuk dalam pelayanan perusahaan terhadap pelanggan.</p>
<p style="clear: both;">Tetapi, ada 2 kejadian, termasuk kejadian hari ini yang saya tidak akan bisa lupakan.</p>
<p style="clear: both;"><em>Kejadian pertama</em> adalah ketika Indovision melakukan upgrade sistemnya untuk mengingkatkan kualitas siaran beberapa bulan yang lalu. Siaran tiba-tiba mati beberapa hari. Saat itu, tidak diberitahu kapan siaran dapat berjalan lagi, sampai istri saya menelepon (dan main pingpong lagi) ke kantor cabang Indovision di Bali. Istri saya diberitahu bahwa kami harus membayar lagi Rp 100.000,-, untuk melanjutkan berlangganan dengan sistem network, atau apalah namanya, yang sudah di upgrade. Permasalahannya bukan masalah jumlah koq. Kalau ngga salah cuma Rp 100.000,-. Tentu saya mampu membayar sejumlah itu. Tetapi, mengapa tidak ada pemberitahuan bagaimana cara bermainnya di muka, ketika mereka melakukan perbaikan atau upgrade sistem? Sekarang hitungannya, berapa jumlah pelanggan Indovision yang membayar untuk melakukan upgrade, 100rb orang? 200rb orang? 1juta pelanggan? Sekarang kalikan saja jumlah itu dengan Rp 100.000,-. Lumayan tuh dapet duit segitu dari hasil &#8216;nodong&#8217; pelanggan. Mungkin membayar upgrade memang tidak terhindarkan, tentu, saya juga bayar koq. Hanya, orang yang tidak mempunyai gelar Sarjana Etis pun mengerti ini melanggar etika. Setahu saya, status legal Indovision itu Perseroan Terbatas, bukan Premanisme Tak Terbatas.</p>
<p>Kejadian kedua, terjadi hari ini. Pagi tadi, istri saya menemukan siaran Indovision mati. Sedikit latar belakang yang mungkin berhubungan dengan kerusakan siaran hari ini, mungkin juga tidak. Jadi, siaran di TV kami selama ini memang putus-putus. Rasanya seperti nonton DVD bajakan yang piringannya tergores-gores. Putus-putus gitu. Akhirnya, kami menelepon salah satu teknisi yang kami tahu untuk memperbaiki. Kami kenal dengan teknisi itu karena waktu itu kami kesulitan memanggil teknisi &#8216;resmi&#8217; Indovision, dan bapak ini sudah memasangkan parabola di rumah kami sejak jaman Astro dan Indovision. Bapak teknisi datang dengan sigap seperti biasa, dan langsung menemukan permasalahannya, di antena Indovision kami. Bapak tadi memberikan solusi dengan membungkus bulatan di parabola (dengan alumunium foil), dan siaran kami pun jadi bagus lagi. Tapi hanya sementara. Bapak teknisi menyarankan untuk mengganti elemen parabola nya, dan menyarankan untuk segera menelepon Indovision karena biasanya untuk menggantinya, Indovision membutuhkan waktu hingga sebulan. Maka, berdasarkan laporan bapak teknisi tadi, kami menelepon Indovision untuk meminta penggantian parabola.</p>
<p style="clear: both;">Saat itu pihak Indovision mengatakan:</p>
<blockquote style="clear: both;"><p>Nanti aja telepon lagi kalo siaran nya sudah mati.</p></blockquote>
<p style="clear: both;">Istri saya heran (jelas, orang bego juga pasti heran), dia jawab:</p>
<blockquote style="clear: both;"><p>Koq nunggu mati? Bukannya untuk penggantian begitu anda butuh waktu sebulan? Jadi kapan kami nontonnya?</p></blockquote>
<p style="clear: both;">CS Indovision menjawab:</p>
<blockquote style="clear: both;"><p>Iya, tapi kalau belum mati belum bisa diganti bu&#8230;</p></blockquote>
<p style="clear: both;"><strong>LEBIH JENIUS DARI EINSTEIN!</strong></p>
<p style="clear: both;">Ya sudah, mau ngomong apa lagi kalo berurusan dengan sistem (bukan salah karyawan, salah sistem) yang diperuntukkan untuk orang-orang jenius. Pelanggan pasti kalah. Akhirnya kami melanjutkan menonton Indovision, membayar iuran bulanan Rp 500.000,-, dan mendapat tampilan siaran seperti DVD bajakan selama lebih dari 3 sebulan. Hingga, pagi ini mati total. Istri saya menelepon Indovision lagi, dan jawabannya:</p>
<blockquote style="clear: both;"><p>Baik bu, kami akan mengirimkan teknisi ke rumah ibu. Paling lama tiga hari sudah datang.</p></blockquote>
<p style="clear: both;">Saya menepuk jidat saya seakan tak percaya, perusahaan sebesar<sup id="fnref-2010-03-26-14-54-58" style="line-height: 0px; font-size: smaller; vertical-align: super;"><a style="line-height: 0px;" href="#2010-03-26-14-54-58">2</a></sup> Indovision koq bisa-bisanya punya sistem seperti itu. Orang tidak bicara juga ngerti koq ini merugikan pelanggan, cuma mereka mungkin diam saja, atau kita tidak tahu mereka juga mengeluh tapi tidak terdengar.</p>
<p style="clear: both;">Seperti saya ungkapkan di pembukaan cerita ini, saya tidak akan memilih Indovision jika ada pilihan lain. Entah siapa yang bisa memecahkan masalah ini, masalah ketidakmampuan menciptakan kompetisi di industri yang market size nya besar. Yang pasti ya kita sendiri, orang Indonesia yang tinggal di Indonesia. Siapa lagi?</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Robin Malau, <a href="mailto:robin@robinmalau.com">Kuta Bali</a></p>
<p style="clear: both;">
<div class="footnotes" style="clear: both;">
<hr />
<ol style="clear: both;">
<li id="2010-03-26-13-46-58">&#8220;Oh bukan tanggung jawab pihak kami, coba telepon ke cabang&#8221;. Ketika menelepon kantor cabang, oh itu di pihak pusat bu, silahkan menghubungi langsung&#8221;. Dan seterusnya.<a class="footnotesBacklink" href="#fnref-2010-03-26-13-46-58">↩</a></li>
<li id="2010-03-26-14-54-58">Besar memang bukan berarti Kualitas.<a class="footnotesBacklink" href="#fnref-2010-03-26-14-54-58">↩</a></li>
</ol>
</div>
<p><br class="final-break" style="clear: both;" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsumen.org/indovision-dan-sistem-pelayanan-yang-jenius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-hati dengan Sales PT. Ikha Prasetya (Save Cos)</title>
		<link>http://www.konsumen.org/hati-hati-dengan-sales-pt-ikha-prasetya-save-cos/</link>
		<comments>http://www.konsumen.org/hati-hati-dengan-sales-pt-ikha-prasetya-save-cos/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 08:09:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Save Cos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsumen.org/hati-hati-dengan-sales-pt-ikha-prasetya-save-cos/</guid>
		<description><![CDATA[Kejadiannya sudah lama sekitar akhir Nopember tahun kemaren. Saat itu sekitar jam 11 datang 2 orang sales bernama Vicka dan temannya. Mereka semula mengaku sebagai petugas surveyor listrik tapi ternyata ujung-ujungnya mereka jualan alat penghemat listrik Save Cos dari PT. Ikha Prasetya seharga Rp 200.000,-. Kini sudah beberapa bulan dipakai dan ternyata alat ini tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="clear: both;">Kejadiannya sudah lama sekitar akhir Nopember tahun kemaren. Saat itu sekitar jam 11 datang 2 orang sales bernama Vicka dan temannya. Mereka semula mengaku sebagai petugas surveyor listrik tapi ternyata ujung-ujungnya mereka jualan alat penghemat listrik Save Cos dari PT. Ikha Prasetya seharga Rp 200.000,-.</p>
<p style="clear: both;">Kini sudah beberapa bulan dipakai dan ternyata alat ini tidak seperti yang dijanjikan. Kalaupun tagihan turun juga karena memang sering terjadi pemadaman listrik.</p>
<p style="clear: both;">Yang saya sesalkan saat menjual dibumbui dengan banyak penipuan:</p>
<ul style="clear: both;">
<li>Masak dia menyebut singkatan WBP di struk PLN sebagai Warga Bermasalah dengan PLN padahal itu kan artinya Waktu Beban Puncak.</li>
<li>Dia mengklaim akan ada kenaikan TDL mulai Desember dan ternyata mulai Desember tidak ada kenaikan TDL setelah saya klarifikasi ke kantor PLN.</li>
<li>Dia juga mengklaim kalau mulai Desember akan ada pemasangan alat ini menyeluruh oleh PLN kepada semua pelanggannya padahal setelah saya klarifikasi ke PLN tidak ada program semacam itu. Dia menggunakan alasan-alasan itu hanya supaya barangnya laku. Karena itu nantinya alat itu akan dijual seharga 1 jutaan tapi sekarang ada diskon sehingga cuma dijual Rp 200 ribu. Setelah saya search di internet ternyata harga pasarannya emang cuma 200 ribu.</li>
<li>Dia mencatut nama seorang pejabat PLN yang sudah membuat program jualannya itu. Setelah saya klarifikasi ke kantor PLN ternyata nama itu tidak ada.</li>
<li>Alat itu sangat ringan padahal kata petugas PLN yang asli cukup berat. Saya tidak tahu apakah alat yang dijual itu abal-abal.</li>
<li>Dia mengaku alat itu komponennya dari Kanada dan dirakit ITS Surabaya.</li>
</ul>
<p>Susilo Ahmadi<br />
<a href="mailto:susilo2005@telkom.net">susilo2005@telkom.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsumen.org/hati-hati-dengan-sales-pt-ikha-prasetya-save-cos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Kunjungan Konsumen.org</title>
		<link>http://www.konsumen.org/laporan-kunjungan-konsumenorg/</link>
		<comments>http://www.konsumen.org/laporan-kunjungan-konsumenorg/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 17:47:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Konsumen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsumen.org/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Konsumen.org saya mulai bulan Januari tahun lalu dan postingan ini adalah postingan pertama. Iseng, subjektif dan pribadi adalah awal sikap saya memulai blog ini.  Perubahan terjadi pada bulan April 2008, ketika itu seorang Konsumen mengirimkan surat keluhan kepada Indosat M2. Waktu itu belum ada formulir kirim surat, tapi surat tersebut dikirim lewat Contact Form. Dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Konsumen.org saya mulai bulan <a href="http://www.konsumen.org/2008/01/" target="_blank">Januari tahun lalu</a> dan <a href="http://www.konsumen.org/hello-world/" target="_blank">postingan ini</a> adalah postingan pertama. Iseng, subjektif dan pribadi adalah awal sikap saya memulai blog ini. </p>
<p>Perubahan terjadi pada bulan April 2008, ketika itu seorang <a href="http://www.konsumen.org/surat-terbuka-untuk-indosat/" target="_blank">Konsumen mengirimkan surat keluhan kepada Indosat M2</a>. Waktu itu belum ada formulir kirim surat, tapi surat tersebut dikirim lewat <a href="http://www.konsumen.org/kontak/" target="_blank">Contact Form</a>. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak, saya terima saja surat-surat dari Konsumen, toh ngga ada ruginya kalaupun blog ini jadi milik bersama dan saya ngga bisa (terlalu) subjektif.</p>
<p>Walhasil, sejak itu saya tambahkan sedikit program set up agar Konsumen.org bisa <a href="http://www.konsumen.org/kirim-cerita-anda/" target="_blank">menerima surat dan cerita</a> dari siapa saja. Karena sudah berurusan dengan masyarakat umum, maka sejak itu pula saya membuat <a href="http://www.konsumen.org/tos/" target="_blank">Kondisi dan Persyaratan</a>, dimana formulir pengiriman cerita konsumen pun disesuaikan dengan Kondisi dan Persyaratan tersebut.</p>
<p>Sampai kini, sudah ada 55 surat konsumen yang masuk, dan ada 175 komentar konsumen di Konsumen.org.</p>
<p>Pengunjung pertama blog ini adalah pada tanggal 24 Januari sebanyak 7 orang, dan sejak bulan Agustus 2008, pengunjung meningkat semakin banyak. Hingga kini, sudah ada lebih dari 7.000 orang pengunjung ke Konsumen.org sejak awal didirikan. Detil pengunjung Konsumen.org sejak awal hingga artikel ini ditulis bisa dilihat di bawah. Not bad untuk projek yang diawali iseng. </p>
<p>Terimakasih sudah datang ke Konsumen.org, mengirim surat dan mengirim komentar. Mudah-mudahan tahun ini Konsumen.org bisa memberikan nilai yang lebih lagi bagi komunitas konsumen Indonesia.</p>
<p><a style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;" title="View Analytics Konsumen Dot Org 20080101-20090121 Dashboard Report) on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/11112531/Analytics-Konsumen-Dot-Org-2008010120090121-Dashboard-Report">Analytics Konsumen Dot Org 20080101-20090121 Dashboard Report)</a> <object width="100%" height="500" data="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=11112531&amp;access_key=key-13lr1kcot9bd5p1eteal&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode=" type="application/x-shockwave-flash"><param name="id" value="doc_444755743434159" /><param name="name" value="doc_444755743434159" /><param name="align" value="middle" /><param name="quality" value="high" /><param name="play" value="true" /><param name="loop" value="true" /><param name="scale" value="showall" /><param name="wmode" value="opaque" /><param name="devicefont" value="false" /><param name="bgcolor" value="#ffffff" /><param name="menu" value="true" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=11112531&amp;access_key=key-13lr1kcot9bd5p1eteal&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode=" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></p>
<div style="margin: 6px auto 3px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 12px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block;"><a style="text-decoration: underline;" href="http://www.scribd.com/upload">Publish at Scribd</a> or <a style="text-decoration: underline;" href="http://www.scribd.com/browse">explore</a> others:            <a href="http://www.scribd.com/browse/Resumes-CVs/Business?style=text-decoration%3A+underline%3B">Business</a> <a href="http://www.scribd.com/browse/Resumes-CVs/?style=text-decoration%3A+underline%3B">Resumes &amp; CVs</a> <a style="text-decoration: underline;" href="http://www.scribd.com/tag/suara%20konsumen">suara konsumen</a> <a style="text-decoration: underline;" href="http://www.scribd.com/tag/konsumen">konsumen</a></div>
<p>Update Laporan Kunjungan hingga 25 Agustus 2009:</p>
<p><a title="View Analytics Konsumen Dot Org  on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/19076848/Analytics-Konsumen-Dot-Org-" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;">Analytics Konsumen Dot Org </a> <object codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" id="doc_520561265678685" name="doc_520561265678685" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle"	height="500" width="470" ><param name="movie"	value="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=19076848&#038;access_key=key-1pjdjcw2jl2206ch178z&#038;page=1&#038;version=1&#038;viewMode=list"></param><param name="quality" value="high"></param><param name="play" value="true"></param><param name="loop" value="true"></param><param name="scale" value="showall"></param><param name="wmode" value="opaque"></param><param name="devicefont" value="false"></param><param name="bgcolor" value="#ffffff"></param><param name="menu" value="true"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowScriptAccess" value="always"></param><param name="salign" value=""></param><param name="mode" value="list"><embed src="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=19076848&#038;access_key=key-1pjdjcw2jl2206ch178z&#038;page=1&#038;version=1&#038;viewMode=list" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" name="doc_520561265678685_object" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle" mode="list" height="500" width="470"></embed></param></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsumen.org/laporan-kunjungan-konsumenorg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Penipuan Oleh PT. RONINDO UTAMA</title>
		<link>http://www.konsumen.org/hati-hati-penipuan-oleh-pt-ronindo-utama/</link>
		<comments>http://www.konsumen.org/hati-hati-penipuan-oleh-pt-ronindo-utama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 03:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsumen.org/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Pada tgl 12 september 2008 ibu saya berusia 70 thn mendapat telepon dari PT.RONINDO UTAMA penelpon mengaku bernama ERNA mengabarkan bhw ibu saya berhak atas sebuah hadiah yang harus di ambil di kantor PT.RONINDO UTAMA di JL. PUTRI HIJAU NO.12F MEDAN. Dengan rasa senang ibu saya mendatangi kantor tsb, yang selanjutnya ibu saya dibujuk rayu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Pada tgl 12 september 2008 ibu saya berusia 70 thn mendapat telepon dari PT.RONINDO UTAMA penelpon mengaku bernama ERNA mengabarkan bhw ibu saya berhak atas sebuah hadiah yang harus di ambil di kantor PT.RONINDO UTAMA di JL. PUTRI HIJAU NO.12F MEDAN.</p>
<p>Dengan rasa senang ibu saya mendatangi kantor tsb, yang selanjutnya ibu saya dibujuk rayu oleh salesman dan salesgirl yg jumlahnya cukup banyak untuk membeli produk kompor listrik seharga Rp3.990.000,- untuk lebih menguatkan rayuan mereka ibu saya di berikan sebuah kupon yg setelah digosok-gosok tertulis voucher senilai Rp1.000.000,- dan kata mereka ibu saya berhak mendapatkan kompor tersebut senilai Rp.2.990.000,- setelah dikurangi vocher tsb. Untuk lebih meyakinkan ibu saya lagi, mereka memberikan bonus tambahan berupa beberapa barang elektronik lain yang sebenarnya tidak dibutuhkan ibu saya.</p>
<p><span id="more-138"></span></p>
<p>Karena pada saat itu ibu saya hanya mempunyai uang Rp 100.000,- dengan segala bujuk rayu lagi ibu saya dikawal oleh 2 salesgirl salah satunya mengaku bernama ERNA pulang ke rumah untuk mengambil buku tabungan bank BRI yang merupakan rekening pensiun ibu saya dan bersama ibu saya mengambil seluruh uang di tabungan tersebut sebesar Rp 2.000.000,-(padahal ini hasil dari penyisihan uang pensiun selama berbulan-bulan). Akhirnya PT.RONINDO UTAMA telah mengambil uang ibu saya sebesar Rp 2.100.000,-.</p>
<p>Setelah mengetahui kejadian tersebut saya segera mengembalikan seluruh barang elektronik PT.RONINDO UTAMA yg ada di rumah ibu saya. Saya segera ke Kantor PT.RONINDO UTAMA di JL.PUTRI HIJAU NO. 12F MEDAN untuk meminta pengembalian uang ibu saya, tetapi dengan berbagai alasan PT.RONINDO UTAMA tidak mau mengembalikannya (juga mereka menggunakan jasa preman untuk menakut-nakuti saya).</p>
<p>Harapan saya agar INTANSI YANG BERWENANG segera menindak PT.RONINDO UTAMA dan perusahaan sejenisnya di seluruh Indonesia agar korban-korban seperti ibu saya tidak terus berjatuhan (sepertinya mereka memilih korban orangtua lanjut usia).</p>
<p><strong>Agustua H Sitompul, SH</strong><br />
Jl. Sei Bilah No.94 Medan<br />
Sumatera Utara<br />
Telepon: (061) 4155714</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsumen.org/hati-hati-penipuan-oleh-pt-ronindo-utama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>167</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PT. TFS &#8211; PERUSAHAAN PMA DAN HUKUM INDONESIA</title>
		<link>http://www.konsumen.org/pt-tfs-perusahaan-pma-dan-hukum-indonesia/</link>
		<comments>http://www.konsumen.org/pt-tfs-perusahaan-pma-dan-hukum-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 03:58:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsumen.org/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Secanggih apapun hipotesa, teori, Undang-Undang di Indonesia namun bagi rakyat kecil, hukum di negeri ini sudah mati. Paling tidak, rakyat kecil tidak berhak menuntut terhadap ketidakadilan yang diterimanya. Boleh percaya, tidakpun boleh. Namun pengalaman saya ini dapat menjadi contoh konkritnya. Tahun 2005 saya telah dirugikan sebesar lk. Rp. 105 jt. oleh sebuah perusahaan finance PMA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Secanggih apapun hipotesa, teori, Undang-Undang di Indonesia namun bagi rakyat kecil, hukum di negeri ini sudah mati. Paling tidak, rakyat kecil tidak berhak menuntut terhadap ketidakadilan yang diterimanya. Boleh percaya, tidakpun boleh. Namun pengalaman saya ini dapat menjadi contoh konkritnya.<br />
<span id="more-122"></span><br />
Tahun 2005 saya telah dirugikan sebesar lk. Rp. 105 jt. oleh sebuah perusahaan finance PMA (PT. TFS) yang berkolaborasi dengan sebuah perusahaan asuransi (PT. AWT). Hal ini telah saya adukan di Poltabes Surakarta. Berbagai bukti-bukti tertulis (a.l. Surat-Surat Palsu, Penggelapan dan Penipuan) telah kami sertakan dalam pengaduan. Dan setelah 35 bulan berlalu, alih-alih Penyidik Poltabes Surakarta mengembangkan pengaduan terhadap delik HAM (Hak Milik), Tipikor (Fidusia) dan Gratifikasi ataupun Perlindungan Konsumen, namun justru jawaban klise (kurang bukti) yang kami terima. Tidak kurang pula Propam hingga Kompolnas telah kami surati, namun tidak ada tanggapan apapun.</p>
<p>Inilah fenomena hukum bagi rakyat kecil &#8211; yang harus menjadi tumbal bagi Pengusaha dan Penegak Hukum dalam memupuk harta kekayaan.</p>
<p>Paradigma lama kini terulang dipentas hukum Indonesia. Eksekutif sibuk mempertahankan jabatan, legislatif idem ditto. KPK kedodoran mengejar pengemplang uang negara. &#8220;Polisi&#8221; (berbekal KUHP)- yang hanya sibuk mengejar kriminal berkantong cekak- pura-pura lupa tentang Jaminan Fidusia dan Perlindungan Konsumen. Tinggallah rakyat tidak berdaya yang hanya bisa memberontak dalam diam sambil mencoba bertahan hidup. Golput manifestasinya.</p>
<p>Sampai kapan ini akan terjadi? Sampai kapan uang negara dan harta rakyat akan dikemplangi pengusaha-pengusaha semacam PT. TFS ini? Sampai kapan Negara dan Rakyat Indonesia ini akan dijajah oleh Pengusaha-pengusaha kakap pembeli keadilan?</p>
<p>Korban arogansi Penegak Hukum sudah terlalu banyak. Revolusi bidang penegakan hukum mungkin satu-satunya solusi. Semoga tulisan ini mampu menjadi pencetus bergulirnya tuntutan kepada Pemerntah untuk segera merevolusi bidang penegakan hukum di Indonesia.</p>
<p>Salam,</p>
<p><strong>David Pangemanan<br />
</strong>Kaliahir Lor RT 01 RW 11 No 3 Kalitirto Kec. Berbah<br />
Sleman &#8211; Daerah Istimewa Yogyakarta 555273<br />
HP: 081227185444</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsumen.org/pt-tfs-perusahaan-pma-dan-hukum-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh Kecil Customer Service Sederhana ala Perusahaan Internet</title>
		<link>http://www.konsumen.org/contoh-kecil-customer-service-sederhana-ala-perusahaan-internet/</link>
		<comments>http://www.konsumen.org/contoh-kecil-customer-service-sederhana-ala-perusahaan-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 12:33:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Customer service]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Reputasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsumen.org/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengelola dan menulis di beberapa blog selain Konsumen.org. Di blog pribadi saya, saya juga sering posting masalah-masalah yang berkaitan dengan jasa dan layanan perusahaan seperti di Konsumen.org. Jika jasa dan produknya memuaskan saya akan promosi tanpa minta bayaran, dan sebaliknya jika tidak suka saya mencak-mencak. Bedanya, disana saya menulis menggunakan Bahasa Inggris dan &#8216;mengirimkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Saya mengelola dan menulis di beberapa blog selain Konsumen.org.</p>
<p>Di <a href="http://www.robinmalau.com">blog pribadi saya</a>, saya juga sering posting masalah-masalah yang berkaitan dengan jasa dan layanan perusahaan seperti di Konsumen.org. Jika jasa dan produknya memuaskan saya akan promosi tanpa minta bayaran, dan sebaliknya jika tidak suka saya mencak-mencak.</p>
<p>Bedanya, disana saya menulis menggunakan Bahasa Inggris dan &#8216;mengirimkan pesan&#8217; kepada perusahaan di luar negeri yang punya core jasa dan layanan di internet.</p>
<p>Hasilnya? Jauh jauh jauh jauh beda dengan perusahaan yang dikirimi pesan di Konsumen.org. <span id="more-34"></span></p>
<p>Hingga kini ngga ada satupun perusahaan yang respon akan keluhan di Konsumen.org. Ah&#8230; mungkin Konsumen.org terlalu kecil untuk diperhatikan. Well itu bedanya dengan perusahaan luar negri. Mereka bahkan merespon kritik mikro karena sadar pengaruh viral-nya.</p>
<p>Perusahaan-perusahaan yang saya kritik bahkan memiliki model bisnis FREE, yaitu user/konsumen bebas menggunakan jasanya tanpa dipungut biaya. Mereka kebanyakan hidup dengan model bisnis ad-supported atau bahkan ada yang masih belanja uang investor. Tanpa memungut biaya pun mereka merespon keluhan konsumen. Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Konsumen.org. Mereka lebih besar, tapi tuli.</p>
<p>Jika tidak percaya, coba perhatikan beberapa postingan ini. Mohon perhatikan jam artikel di publish hingga  ketika staff perusahaan datang dan merespon. Hitungannya jam, bukan hari bukan bulan bukan tahun.</p>
<ol>
<li><a href="http://www.robinmalau.com/pluggedin-is-useless/" target="_blank">Komplen 1</a>- Perusahaan Video Musik. Nonton video musik gratisan.</li>
<li><a href="http://www.robinmalau.com/i-stop-using-firefox-3/" target="_blank">Komplen 2</a> &#8211; Perusahaan Browser Open Source. Gratis.</li>
<li><a href="http://www.robinmalau.com/why-slidesharenet-sucks/" target="_blank">Komplen 3</a> &#8211; Perusahaan embedable Slide &#8211; Layanannya gratis.</li>
</ol>
<p>Pertanyaannya, akankah consumer based site seperti Konsumen.org. Data dan sejarah menuju ke arah situ dan tampaknya tidak banyak perusahaan Indonesia yang mengantisipasinya.</p>
<p>Bisnis Indonesia akan kiamat? Jika tidak ada perubaha, jawabannya: PASTI dan mungkin ngga lama lagi. Perusahaan-perusahaan lokal akan terancam mati di makan kompetisi jika mau berbenah dari sekarang.</p>
<p>Caranya? Sebagai permulaan, setidaknya set up <a href="http://www.google.com/alerts" target="_blank">Google Alerts</a> yang gratisan untuk mengawasi merk dan perusahaan anda di internet. Impact-nya besar sekali, karena anda akan tahu kapan seseorang di belahan dunia lain sedang membicarakan merk anda, sehingga anda bisa cepat mengantisipasi.</p>
<p>Semoga berguna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsumen.org/contoh-kecil-customer-service-sederhana-ala-perusahaan-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsumen di Wikipedia</title>
		<link>http://www.konsumen.org/konsumen-di-wikipedia/</link>
		<comments>http://www.konsumen.org/konsumen-di-wikipedia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 17:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Konsumen]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsumen.org/konsumen-di-wikipedia/</guid>
		<description><![CDATA[Ah senangnya menemukan definisi di Wikipedia, salah satu dictionary yang paling sering saya gunakan untuk melakukan riset. Berikut definisinya: Konsumen adalah seseorang atau sekelompok orang yang membeli suatu produk untuk dipakai sendiri dan tidak untuk dijual kembali. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. pada masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Ah senangnya menemukan definisi di Wikipedia, salah satu dictionary yang paling sering saya gunakan untuk melakukan riset.</p>
<p>Berikut definisinya:</p>
<blockquote><p>Konsumen adalah seseorang atau sekelompok orang yang membeli suatu produk untuk dipakai sendiri dan tidak untuk dijual kembali. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu sebagai produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.</p></blockquote>
<p>Ya itu saya&#8230; Apakah itu termasuk anda juga?</p>
<p>Halaman asli <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konsumen" target="_blank">disini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsumen.org/konsumen-di-wikipedia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

