Uang Lenyap di ATM Bank Mandiri

Saya korban penipuan ATM akibat kelalaian Bank Mandiri karena membiarkan ATM mereka dihiasi nomor custumer service lainya. ATM saya tertelan, kemudian maklum kalau saya panik dan menelpon customer service, apa yang terjadi? Uang saya amblas

Kemudian saya komplen ke Bank Mandiri, apa tanggapan Bank Mandiri? ” Itu murni kesalahan Bapak, karena Bapak menelpon customer service yg salah.

Saya menyangkal “Kenapa pihak Bank Mandiri tidak teliti check ke setiap ATM nya tiap hari, apakah ada sticker Bank Mandiri yg diganti atau ada selebaran?”

Kemudian pihak Bank Mandiri berjanji akan menampilkan CCTV kejadian tersebut, tetapi sampai dengan hari ini tidak ada kabar beritanya. Baru saja saya mendapat kabar tetangga saya kebobolan 26 juta, Bank Mandiri pula tepatnya di Kota Cilacap.

Kejadian yg menimpa saya tgl 5 April 2012 jam 9:57, di ATM RSUD Kab Cilacap. Mohon saran dari pihak yg membaca ini, apalagi kalau yg membaca ini dari Pihak Bank Mandiri, saya minta kepastian. Kejadian ini sehari setelah saya membuka ATM di Mandiri cab Cilacap,

Pelayanan complain tidak semanis waktu menawarkan pembukaan rekening. Mohon saran, karena kami orang kecil, uang begitu berharga buat kami. Terima Kasih.

Wijang Ratmaka
Jl. Kokosan no 33
Cilacap
087719766764

Personal Loan-Belum jatuh Tempo Sudah Ditagih

Saya nasabah PL no 0451894958XX. Setiap bulan saya selalu mendapat informasi tagihan PL HSBC saya. Itu cukup membantu.

Namun saya keberatan sekali dengan telepon yang dilakukan pihak HSBC sebelum tanggal Jatuh Tempo. Setiap Bulan saya selalu ditelepon seminggu sebelum jatuh tempo, dan selalu saya sampaikan untuk tidak usah menghubungi saya sebelum tanggal jatuh tempo, karena saya tidak pernah terlambat membayar.

Ternyata komplain saya tersebut diabaikan HSBC. Terakhir tgl 14/10/2009 pukul 19.20 wib saya masih menerima telepon dari Mona (081383767450) yang menginformasikan tanggal jatuh tempo saya tgl 18 dan agar saya tidak terlambat membayar. Mona tidak mau mendengarkan penjelasan saya, dan langsung mematikan pembicaraan.

Saya mencoba menghubungi nomor tersebut tetapi ternyata tidak bisa. Saya sudah komplain melalui call center tgl 15 Oktober 2009, tetapi tidak ada tanggapan sampai saat ini. Saya mencoba komplain melalui website HSBC, tetapi ternyata tidak ada wadah buat menampung keluhan nasabahnya. Sehingga saya komplain ke media di luar HSBC. Sekali lagi saya sampaikan, saya sangat-sangat-sangat keberatan ditagih jika belum jatuh tempo.

Thomas B.
Jl. Jurang Mangu Barat
Tangerang – Banten 15224

Kesalahan Kartu Kredit Mandiri harus ditanggung nasabahnya

Saya memiliki tagihan internet dan telepon yang terdaftar dalam program PowerBill Mandiri.

Dengan alasan tertentu saya ingin memberhentikan layanan tersebut dengan melakukan konfirmasi dan fax surat pernyataan penghentian ke pihak Mandiri.

2 Minggu kemudian saya telepon kembali untuk memastikan bahwa segalanya sudah beres, dan tidak ada masalah.

Ternyata pada tagihan berikutnya masih terdapat pemotongan atas internet dan telepon tersebut. Setelah saya konfirmasi, pihak mandiri menyadari atas kelalaian tersebut dan menyarankan untuk melunasi terlebih dahulu tagihan yang ada dan dijanjikan setelahnya akan dikoreksi. Setelahnya saya melakukan pembayaran tersebut.

Pada tagihan berikutnya ternyata tidak ada pemotongan yg spt dijanjikan, dan ketika saya telepon ke Mandiri, mereka menyarankan untuk membuat laporan ulang dan saya turuti.

2 Minggu berturut-turut selama 2 bulan saya tanya perkembangannya, dan masih dalam penyelidikan juga. Sampai akhirnya disarankan lagi untuk membuat laporan yang baru lagi, dan saya turuti lagi.

1 minggu kemudian pihak Mandiri Card Center telepon untuk meminta bukti pembayaran saya ke pihak Telkom, dan setelah saya cari ternyata tidak ketemu. Lalu pihak Mandiri akan coba melanjutkan investigasi.

Selang 2 bulan tidak ada kabar, saya coba contact lagi ke Mandiri Card Center, dan alangkah terkejutnya mereka melepaskan tanggung jawab tersebut ke saya untuk mengurusnya sendiri ke pihak Telkom, dengan alasan kasusnya sudah lebih dari 3 bulan.

Jelas-jelas kesalahan kelebihan penagihan oleh pihak Mandiri sendiri dan kasusnya sengaja dibiarkan mengambang lebih dari 3 bulan.

Karena kasusnya tidak selesai, pihak Mandiri mengambil jalan termudah dan tidak mau repot, yaitu dengan meminta customer yang mengurus sendiri ke pihak Telkom.

Mandiri memang Bank terbesar omonganya dan Terpercaya liciknya. Harap waspada terhadap bank yang tidak bertanggung jawab ini.

Mulyadi Honggo
Taman Harapan Indah Blok BB/4
Jakarta – 11460
08158008524

BRI (lagi-lagi) Mengecewakan

Pada tanggal 26 Februari saya melakukan transaksi cek saldo SMS Banking BRI. Sejak pagi sampai siang, saya sudah melakukannya sebanyak 3 kali dengan format yang sama : SALDO (PINSMS) kirim ke 3300.

Setiap kali saya mengirim, pulsa saya terpotong 1.000 rupiah. Sehingga, pada hari itu pulsa saya terpotong sebnayak 3.000 rupiah.

Tapi, 3 kali saya kirim, tak satupun balasan yang masuk ke HP saya.

Saya pun menelepon Call Center BRI di nomer 14017. Diterima petugas bernama Nicky (laki-laki). Saat dicek, ternyata pada saat itu terjadi gangguan jaringan di SMS Banking BRI.

Saya pun bertanya, “Lalu, pulsa saya gimana mas?”
Dia menjawab, “pulsanya memang otomatis terpotong pak, sejak dilakukannya pengiriman,”
Saya bertanya lagi “lalu, informasi tidak kunjung saya dapatkan, tapi pulsa saya terpotong. Gimana ini?”
Dia menjawab, “memang seperti itu, pak. Pulsa dipotong oleh operator yang bersangkutan meskipun transaksi gagal dilakukan”
Saya pun bertanya lagi, “Lalu, kapan jaringan ini beres pak?”
Dia menjawab, “belum tau pak. nanti bapak coba lagi saja”

Logika otak saya yang tidak sepandai bos-bos di BRI mengatakan, jika tidak saya harus mencoba terus,maka potensi pulsa saya terpotong lebih besar lagi. Jika pada hari itu saya mencoba sebanyak 10 kali, maka pulsa saya terpotong 10 ribu. Jika di saat yang sama terdapat 1000 pelanggan SMS Banking BRI yang mencoba sebanyak 10 kali pula, maka terdapat 100 JUTA Rupiah uang keluar tanpa ada hasil atau SMS balasan dari BRI.

Apakah memang demikian kebijakan BRI ? Pulsa terpotong atau tidak (seperti dikatakan mas Nicky tadi) adalah urusan operator, sementara persoalan jaringan tidak ada follow up atau pemberitahuan kepada konsumen bahwa sedang ada gangguan jaringan, atau bahkan pemberitahuan jika permasalahan telah selesai.

Di kepala saya yang tidak sepandai Bos-Bos BRI itu, mestinya ada tindakan dari BRI yang akan menginformasikan kepada pelanggan SMS Banking BRI jika terjadi persoalan jaringan, dan AKAN DIBERITAHUKAN lewat SMS pula jika persoalan tersebut telah selesai. sehingga, pelanggan tidak membuang-buang pulsanya untuk mencoba dan belum tentu berhasil.

Bayangkan, jika saya mencoba sebanyak 10 kali, artinya hanya untuk cek saldo saya dikenai biaya 10ribu. Itu dengan catatan persoalan jaringan telah selesai.
Sungguh mengecewakan Bank Sebesar BRI tidak becus menangani problem pelayanan. Mereka hanya membangun, mengembangkan, menambah, tapi tidak mampu merawat. Akibatnya, promosi SMS Banking jadi SIA-SIA.

Untunglah BRI adalah Bank yang wajib saya miliki rekeningnya, karena gaji saya dibayar hanya lewat situ. Kalau tidak…entahlah.

 

Yunus Bani Sadar

yunusbani@gmail.com

Bank Mandiri tidak profesional

Saya menulis ini dengan maksud agar pemakai kartu kredit Bank Mandiri lainnya tidak mengalaminya seperti yang saya alami. Saya sangat kesal kepada staf Kartu Kredit Bank Mandiri yang tidak profesional. Karena tidak mengutamakan keluhan customer dan selalu saja menjawab dengan kata “maaf”.

Berawal dari saya membeli handphone (HP) Esia dengan hanya mengisi pulsa Rp50.000 setiap bulannya sampai dengan satu tahun (Paket program Mandiri dan Esia). Karena waktu itu HP mama saya rusak dan saya sedang bebelanja dengan mama saya di Mall Arta Gading. Kebetulan Bank Mandiri sedang ada pameran dengan paket HP esia, cukup dengan mengisi pulsa saja selama satu tahun dan akan mendapatkan HP gratis.

Saya pikir ini adalah kesempatan bagus dan tidak rugi. Dan, saya mengisi formulir yang tersedia. Saya hanya membeli HP Esia saja dengan setiap bulannya akan terisi pulsa sebesar Rp50.000 yang didebetkan ke kartu saya dalam awal bulan.

Dalam pendebetan pertama dan yang kedua saya didebetkan dua kali dalam sebulan. Seharusnya hanya sekali sebulan. Jadi saya sudah didebetkan dan dirugikan oleh Bank Mandiri sebesar Rp100.000. Waktu itu pendebetan dua kali terjadi pada bulan September dan Oktober 2008. Kejadian ini sudah saya laporkan ke staf Bank Mandiri sejak bulan Oktober.

Setiap minggu saya menelepon untuk menanyakan hasilnya dan sampai bulan Desember 2008 saya masih belum mendapatkan juga jawaban dan konfirmasi dari Bank Mandiri. Apabila saya menelepon ke Bank Mandiri selalu di-hold sangat lama. Sekitar 10 Menit hanya untuk menanyakan hasil laporan saya.

Saya sangat kesal setiap menelepon hanya kata “maaf” yang diucapkan oleh staf Bank Mandiri. Saya sudah pernah sampaikan akan saya masukan ke suara konsumen dan pembaca pada waktu bulan Desember awal. Sampai sekarang Bank Mandiri juga tidak menyelesaikan laporan saya dan mengembalikan uang ke card saya.

Saya sudah menuliskan ke suara pembaca di situs online lainnya dan telah dalam muat pada 8 Januari 2009. Dan pada 9 Januari saya dikonfirmasi oleh staf Bank Mandiri karena telah membaca Surat keluhan di situs tesebut, serta saya juga sudah menerima surat dari Bank Mandiri atas permintaan Maaf.

Saya menelepon lagi pada 4 Febuari 2009 dan menanyakan kembali status pendebitan saya. Hanya jawaban hanya dalam proses… sampai kapan? Apa hanya dengan kata maaf, masalah bisa diselesaikan? Apabila penguna kartu kredit telat bayar, pihak Bank Mandiri tidak mau tahu apapun alasannya dan akan dibungakan. Gimana dengan Status kelalaian dari Bank mandiri? Sudah lima Bulan lebih dan hanya kata maaf, tidak ada kompensasi sama sekali. Menurut hukum ini sudah termasuk pengelapan, dan pihak Bank Mandiri terbukti bersalah. Saya sungguh kecewa kepada Bank Mandiri.

Rencana saya akan menutup kartu kredit saya di Bank mandiri karena saya sangat kecewa dari segi pelayanan telepon yang sangat lama dan memakan waktu 15 menit di-hold ditelepon, dan tata cara yang berlaku di Bank Mandiri bisa terbilang kaku bila dibanding dengan bank lainnya.

Saya akan tetap memasukan ke suara konsumen dan media cetak lainnya sampai Bank Mandiri menyelesaikan masalah saya. Benar hanya Rp100.000 ini saya sampai terbawa emosi, karena pelayanan dan lamanya penyelesaian masalah ini.

Saya mangaku sangat kecewa. Terima kasih.

Tonny Lee
Perkantoran Duta Pertiwi Blok J29, Jakarta
toni@griyasis.com
0216129889 (fer)

Sistem Kartu Kredit Citibank Membahayakan & Merugikan

Sungguh membahayakan dan sangat merugikan memiliki kartu kredit Citibank, bank internasional yang meraih Banking Service Excellence Award tahun 2007-2008 dari InfoBank, ternyata tidak mempunyai sistem perlindungan dan sangat tidak peduli terhadap customer-nya.

Saya pemegang kartu kredit Citibank tanpa catatan buruk selama hampir 9 tahun (tipe visa gold), merasa sangat dirugikan oleh sistem dan pelayanan dari Citibank. Kartu tambahan atas nama ibu saya tanpa disadari telah dibelanjakan oleh oknum tak bertanggung jawab hingga hampir 17 juta Rupiah. Pada transaksi pertama, oknum tersebut membelanjakan senilai 10,4 juta Rupiah, sebuah transaksi dengan nilai nominal cukup besar dan pola di atas kewajaran, sudah seharusnya dan sewajarnya pihak Citibank mengkonfirmasikan transaksi tersebut kepada pemilik kartu. Bahkan ketika pemakaian-pemakaian selanjutnya telah melebihi 35% dari limit kartu kredit, transaksi-transaksi tersebut masih disetujui oleh Citibank dan tidak diblokir hingga total 8 transaksi, di mana transaksi dilakukan berkali-kali di tempat yang sama dan pada waktu yang bersamaan.

Mengutip dari website Citibank:

“Kami menekankan pentingnya ketenangan (peace of mind) sebagai salah satu prioritas kami. Untuk itu, Citibank memiliki sistem dan staf khusus yang bertugas untuk memonitor pola transaksi nasabah.”

Ternyata hal tersebut hanya slogan omong kosong belaka, karena mekanisme sistem kartu kredit Citibank membahayakan dan sangat merugikan customer, misalnya:

  1. Citibank tidak melakukan pemblokiran otomatis terhadap transaksi yang melebihi 35% dari limit kartu kredit.
  2. Citibank tidak melakukan konfirmasi kepada pemilik kartu terhadap pola transaksi yang tidak wajar.
  3. Citibank mengijinkan transaksi-transaksi yang berpola mencurigakan/berpola pencurian, yaitu kartu dibelanjakan berkali-kali pada waktu dan hari yang sama, pada satu merchant yang sama dan langsung menghabiskan limit yang tersedia, padahal tanda tangan di bukti transaksi berbeda dengan tanda tangan pemilik kartu yang tertera di balik kartu kredit.
  4. Citibank mengharuskan customer agar tidak memakai kartu kredit melebihi limit, namun di pihak lain, Citibank tidak mematuhi batas limit yang ditetapkan oleh Citibank sendiri.

Lebih dari tiga bulan saya menghadapi proses yang berbelit-belit dan tidak profesional dari tim Customer Care Center Citibank (Sdr. Adham, Sdri Amalia Hutomo dan Sdr. Hotman Simbolon), meskipun saya sudah berulangkalli menegaskan bahwa kedelapan transaksi tersebut bukan dilakukan oleh pemegang kartu, dan telah dibuktikan oleh perbedaan tanda tangan yang terdapat pada bukti transaksi dengan tanda tangan asli dari pemegang kartu.

Bahkan ketika saya datang untuk meminta keadilan dari Citibank, ternyata pihak Citibank tidak beritikad baik dan tetap menuntut saya untuk melunasi transaksi-transaksi yang tidak pernah dilakukan oleh ibu saya selaku pemegang kartu tersebut, tanpa adanya investigasi terhadap delapan transaksi senilai total hampir 17 juta Rupiah, di mana nominal kerugian yang timbul hingga sebesar itu disebabkan oleh mekanisme sistem Citibank yang tidak aman dan sangat jelas sekali tidak memonitor pola transaksi nasabah. Padahal tujuan nasabah memiliki kartu kredit adalah untuk mendapatkan keamanan yang lebih sebagai alat pembayaran dibandingkan dengan membawa uang tunai.

Yang lebih mengherankan dan sangat mengejutkan, baru-baru ini ibu saya justru ditawari oleh petugas Citibank lain untuk memiliki kartu kredit lagi padahal kasus yang kami alami ini belum selesai. Sekali lagi, hal ini dapat terjadi karena sistem koordinasi internal yang sangat lemah dan hanya berfokus kepada keuntungan produsen. Citibank hanya bereaksi cepat dengan penjualan awal dan keterlambatan pembayaran. Hal-hal yang berkaitan dengan hak kenyamanan, keamanan dan perlindungan customer yang tercantum dalam UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 99 tidak diutamakan.

Melihat pengalaman kasus ini, Anda bisa bayangkan jika Anda sebagai pemilik kartu kredit Citibank yang berlimit besar pasti akan selalu merasa was-was. Dan dengan adanya kejadian ini, saya akan beralih ke kartu kredit lain yang mempunyai sistem lebih aman.

 

Syahneth Purbasari

spurbasari@asuransi.astra.co.id

Hati-Hati Melakukan Transaksi di ATM ODBC BANK NISP

Hal ini menimpa saya 20 Januari 2009 Jam 20.00 di ATM ODBC BANK NISP UNIVERSITAS WIDYATAMA. Saya adalah nasabah Bank BNI Cab.Telkom yang beralamat di Jl.Cikutra GG.Sekejati No.31 Bandung. Karena saat itu saya butuh uang tunai maka saya putuskan untuk menggunakan ATM ODBC BANK NISP yang juga merupakan ATM BERSAMA yang terdapat di Universitas Widyatama Bandung. Saya sudah sangat biasa menggunakan ATM ODBC BANK NISP karena lokasi ATM BNI cukup jauh dari tempat tinggal saya maka karena itu saya sering menggunakan ATM tersebut dan tidak pernah ada masalah.

Musibah akhirnya menimpa saya. Saat itu seperti biasa saya menuju ATM ODBC BANK NISP di Universitas Widyatama dan mencoba melakukan transaksi. Saya memasukkan kartu ATM dan memasukkan No.Pin. Setelah itu saya memasukkan jumlah Saldo yang akan saya ambil yaitu Rp.200.000. Saldo yang tersimpan saat itu adalah Rp. 231.314,00. Setelah lama menunggu di depan mesin ATM, muncul sebuah pesan dari Mesin ATM yang kira-kira pesannya seperti ini “……Tidak dapat terhubung dengan Switch Bank Bersangkutan…..” Pesan yang aneh menurut saya dan itu adalah pengalaman pertama memperoleh pesan aneh dari mesin ATM. Dengan polosnya saya meninggalkan ATM karena mengira ATM tidak berfungsi.

Kemudian saya putuskan untuk pergi ke ATM BNI Cab. Itenas Bandung dan menemukan saldo saya telah berkurang Rp.200.000 dan itu adalah jumlah yang saya ingin ambil tadi di ATM ODBC BANK NISP UNIVERSITAS WIDYATAMA karena masih tidak percaya akhirnya saya mengecek kembali di ATM BANK MANDIRI Cab. Supermarket Giant di Suci dan hasilnya sama. Saldo Rp.200.000 lenyap entah kemana. Saya pulang ke kostan dan kemudian Saya mengecek mutasi rekening di Internet Banking Bank BNI dan saya menemukan Transaksi yang tadi saya lakukan di ODBC BANK NISP Universitas Widyatama beserta biaya TRX ATM BERSAMA sebesar Rp.4.200 tercatat di mutasi rekening Bank BNI. Berarti transaksi saya tadi di ATM ODBC BANK NISP berhasil. Tetapi saya tidak memperoleh uang saya tersebut karena mengira tidak terjadi transaksi dan pesan aneh yang muncul dari ATM ODBC BANK NISP UNIVERSITAS WIDYATAMA yang mengatakan “….tidak dapat terhubung dengan Switch Bank Bersangkutan…” Berarti telah terjadi kejahatan di ATM ODBC BANK NISP berupa pesan aneh tadi dan bisa dipastikan orang lugu seperti saya akan mengira ATM tidak berfungsi.

Uang Rp.200.000 itu sangat besar dan berarti buat saya yang hidup dalam kesederhanaan dan uang itu kini hilang entah kemana. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa termasuk ATM ODBC BANK NISP Universitas Widyatama dan saya meyakini ini adalah cobaan dari yang di Atas. Saya hanya meminta pembaca dapat berhati-hati agar kejadian yang menimpa saya tidak terjadi lagi. Mudah-mudahan pembaca dapat mengambil hikmah dari kejadian ini. 


Andi Sesar Yahya
Jl.Cikutra GG.Sekejati V No.31 Bandung
Email: andi.sesar@widyatama.ac.id
Hp : 081394548801 

Hati-hati Dengan Penutupan Kartu Kredit BNI

Baru-baru ini saya mengajukan KPR, kredit ditolak dengan alasan masih ada sangkutan di BNI. Saya merasa tidak punya hutang di BNI makanya saya klarifikasi dengan pihak BNI.

Pada hari Kamis tanggal 11 Desember 2008 sekitar jam 16.30 saya telpon ke BNI di Nomor 6928105 dan diterima oleh Bu Mila yang “RAMAH”. Saya menanyakan ada sangkutan apa saya di BNI yang menyebabkan kredit saya ditolak? Ternyata jawabannya katanya pada tahun 2003 saya punya kartu kredit yang belum ditutup (yang seingat saya sudah ditutup) yang jumlahnya lebih dari Rp. 4 juta???? Padahal limitnya saja Cuma Rp. 2juta… Saya tanya kenapa nilainya bisa fantastis seperti itu… Dia bilang karena kartunya masih aktif jadi masih kena bunga, iuran tahunan, denda karena tidak bayar??? ANEH….padahal saya tahu kalau saya masih ada hutang saja karena saya mengajukan KPR dan saya bermaksud baik untuk menanyakannya ke pihak BNI bagaimana kalau saya tidak telpon untuk menanyakannya beberapa tahun kedepan..????? Mungkin bisa berkali lipat jumlahnya….

Akhirnya saya tanya… kalau saya mau selesaikan apa ada kebijaksanaan dari BNI untuk mengurangi jumlah tsb. Dan dikatakan saya cukup membayar sampai tahun 2006 sebesar RP. 1,2 juta… Saya masih keberatan karena ini bukan mutlak kesalahan dari saya… Selama ini saya sama sekali tidak pernah menerima tagihan ataupun telpon dari BNI yang menyatakan kalau saya masih punya hutang (padahal menurut pihak BNI) kartu saya masih aktif… Secara logika kalau kartu saya masih aktif, pasti akan terus ada surat tagihannya kan???

Disini saya lihat BNI sangat tidak fair terhadap saya… Saya mau menyelesaikan tunggakan saya kalau dulu ternyata masih ada yang harus saya bayar… Tapi tagihanpun tidak pernah saya terima. Padahal dari dulu sampai sekarang saya masih ada di alamat dan kerja ditempat yang sama dan karenanya saya yakin sekali sudah menutup kartu tsb. Dan kalau ditanya bukti pelunasan saya… Mana saya ingat lagi karena itu sudah lama sekali.

Mohon agar Pihak BNI bersikap professional, jangan merugikan dan mempersulit nasabah dengan hal-hal seperti ini. Dan saya yakin BNI bisa bersikap bijaksana dalam kasus-kasus seperti ini walaupun pada saat komplain tidak begitu baik penerimaannya, dan kepada nasabah BNI lainnya harap berhati-hati pada saat penutupan kartu… Bisa saja hal ini terjadi pada siapa saja…

Saya menulis disini karena pada saat saya telepon tidak mendapat respon yang pantas.

 

Dian Widianty

Pondok Timur indah Jl. Camar VI Blok C 155

Bekasi, Jawa Barat

HP. 08128002721

Bagaimana Tanggung Jawab Citibank?

Sudah beberapa kali saya mendapatkan telepon dari The Java Tour, yang menawarkan produk jasa/fasilita diskon dengan menjadi anggota executive The Java Tour. saya menolak untuk menerima sambungan telpon tersebut, tapi karena dihubungi tersebut akhirnya saya coba menerimanya.

Permasalahan awalnya di mulai Tanggal 22 September 2008 ada seseorang yang benama Fito/Vito (kurang jelas) menelepon saya dengan menawarkan produk fasilitas diskon (tiket pesawat, KA, dll). Sambil menjelaskan semua itu dia menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan nomor kartu kredit saya dimana sebelumnnya dia sudah mengetahui 8 digit sambil terus berusaha, pada saat itu saya menyebutkan 8 digit kartu kredit saya yang terakhir. Akhir dari penjelasannya dia mengatakan akan mengirimkan formulir melalui fax, yang isinya tanda bersedia ditagihkan ke kartu kredit dengan baris nomor kartu kredit sudah diisi nomor kartu kredit saya beserta gambar materai Rp 6000 dimana ada nama saya.

Tapi fax tersebut saya abaikan, tiba-tiba ada orang yang mengaku dari Citibank menelpon saya (bernama Steven) meminta konfirmasi saya apakah benar bahwa saya telah melakukan transaksi sebesar Rp 2.995.000,- tagihan dari the java tour, saya kaget sekali dan panik. Bapak Steven ini menelepon dengan alasan bahwa Citibank merasa perlu bertanya karna tagihan ini diluar kebiasaan tagihan bulanan kami. Dan itu yang membuat saya masuk akal bahwa tagihan tersebut benar-benar telah masuk ke tagihan kartu kredit saya.

Kemudian dia memberi saran kepada saya untuk segera memblokir kartu kredit saya dan segera menandatangani formulir tersebut dengan maksud bahwa saya akan rugi 2 kali dimana saya sudah ditagihkan kemudian paket saya tidak terima. Akhirnya saya saya tandatangani diatas gambar materai tersebut dan fax kembali ke kantor The Java Tour beserta syarat yang diminta yaitu fotokopy KTP.

Saya meminta Pak Steven untuk melakukan pemblokiran tapi katanya bukan bagian dia, maka saya langsung menghubungi bagian customer service tapi sulit sekali masuk dan pemblokiran kartu kredit saya berhasil setelah keesokan harinya menggunakan telpon rumah sekaligus dibuatkan kartu baru. Setelah kejadian tersebut istri saya mencoba mencari informasi ke bagian customer service Citibank dan hasilnya adalah bahwa kami bisa melakukan pengaduan terhadap transaksi tersebut dengan mengisi formulir pengaduan yang dikirimkan oleh Citibank, sesuai petunjuk dari dari customer service (ibu Winny) document yang diminta adalah bukti pengembalian paket berupa slip dari kantor pos teralamat the java tour berserta bukti pengiriman dari the java tour ke alamat kami.

Hal ini juga tidak semudah yang tertulis dimana kami beberapa kali dipimpong untuk menelpon si ini tunggu persetujuan si ini tapi mungkin karena kami terus menelpon dan menanyakan hal teresebut akhirnya Tagihan tersebut di cancel di bulan Nopember. Saya pikir ini sudah selesai, karena tiba-tiba pada tanggal 4 December 2008 seorang yang bernama Avi dari Citibank menelpon saya yang meminta saya untuk menyelesaikan persoalan ini dengan mendatangi kantor The java tour untuk meminta uang saya kembali dan mengembalikannya ke kartu kredit saya dengan batas waktu sampai tanggal 9 Desember 2008, dengan alasan di copy tagihannya terdapat tanda tangan saya diatas materai dan jika hal ini tidak dilakukan maka tagihan sebesar Rp 2.995.000 kembali akan di munculkan di bulan Desember.

Terus terang saya sangat kecewa dengan pengalaman buruk ini, dimana akhirnya konsumen-lah yang salah dan tanggung jawab menjadi beban sendiri. Dan mengenai mengenai Proteksi dini terhadap transaksi diluar kebiasaan itu tidak ada. Karena semuanaya kami yang proaktif untuk menanyakan tapi tetap saja dipersulit. Mungkin kejadian ini bisa terjadi juga terhadap orang lain.

Mungkin ada yang bisa bantu saya?

 

Julius Firmanto

Jl.Nakula 4 Blok S no 213 Perumnas Bumi Teluk Jambe

Karawang – Jawa Barat

Telp: 0267 645110

Kampanye HSBC Kurangi Penggunaan Kertas & Selamatkan Lingkungan!

Baru saja mendapat email lewat milis HSBC dengan subjek Daftar E-Statement sekarang juga!

Isinya kurang lebih mempromosikan layanan online banking dan dibuka dengan kalimat sebagai berikut:

Apa itu E-Statement?

e-Statement adalah layanan online dan gratis bagi nasabah HSBC, sehingga setiap nasabah dapat menerima rekening perbankan dan kartu kredit tanpa menggunakan kertas. Dengan demikian, nasabah HSBC juga bisa memberikan kontribusi nya bagi lingkungan hidup

Sejak awal menggunakan kartu kredit HSBC saya sudah menggunakan jasa ini, karena saya mengerti fungsi dan kegunaannya untuk lingkungan hidup. Tapi karena sebelumnya saya sempat kena masalah prosedur HSBC yang ngga konsisten dengan kampanye mereka ini, maaf, tapi terus terang saya jadi ketawa terbahak-bahak karena inkonsistensi mereka.

Entah saya melewatkan sesuatu atau bagaimana, tapi silahkan baca postingan ini dan ini. Sepertinya Bank sebesar HSBC pun tidak mengerti apa itu less paper society dan bagaimana imlementasinya secara komprehensif. Dengan menawarkan satu program saja, seperti e-statement, bukan berarti anda sudah menyelamatkan lingkungan hidup, tapi mungkin baru menjalankan efisiensi biaya kertas, tinta dan pengiriman untuk perusahaan anda.

Artikel-artikel tadi menurut saya hanya sebagian kecil saja dari ketidaktahuan dan ketidakmengertian institusi sebesar HSBC tentang masalah menyelamatkan lingkungan hidup dengan mempertahankan prosedur yang tidak efisien. Mudah-mudahan ada yang bisa menguji hipotesa saya, jika tidak pun, saya sendiri yang akan mengujinya. Jadi entah kampanye ini hanya sekedar Me Too saja atau bagaimana…

Well maaf, akhir kata, menurut saya, program anda ini hanyalah gimmick belaka.

hsbc rubbish

Kesalahan Transaksi HSBC di ATM BCA

Artikel ini adalah update dari artikel yang lalu.

Setelah kejadian, saya segera mencari wartel untuk menerima fax. Kemudian, saya telepon kembali HSBC Customer Service hari ini dan di terima oleh Customer Service bernama Gracia yang lebih sopan dan kooperatif (tampaknya lebih pintar) daripada Ririn.

Ternyata, prosedur penyanggahan lewat fax semakin tidak masuk akal dan merugikan. Mengapa?

Penyebab 1- Informasi Nasabah

Formulir penyanggahan yang dikirimkan melalui fax tersebut berisi informasi nomer kartu kredit nasabah, nama nasabah dan kasusnya.

Ya tentulah, Robin ini ngga ngemodal, nerima fax koq lewat fasilitas umum Wartel.

Lah… Jikapun lewat kantor, mana ada kantor di dunia ini yang punya 1 mesin fax untuk 1 karyawan? Bahkan barusan, saya konfirmasi ke Gracia pun, perusahaan HSBC yang sebesar itu saja tidak punya 1 mesin fax untuk 1 karyawan. Berarti informasi kartu kredit saya tersebar kemana-mana juga dong meski saya terima fax itu di kantor?

Tentunya, HSBC tidak mau bertanggung jawab jika informasi tersebut tersebar bukan?

Penyebab 2 – Waktu Pengiriman Fax Tidak Bisa Ditentukan

Tampaknya, Departemen yang mengirimkan fax di HSBC berbeda dengan Departemen Customer Service. Komunikasi antar perusahaan, demi keteraturan administrasi, biasanya menggunakan Request Form (mudah2an saya tidak salah). Ketika saya coba minta konfirmasi ke Gracia, ternyata konon Departemen Pengirim Fax tidak bisa memastikan kapan Fax Formulir Penyanggahan Transaksi tersebut dikirim.

Jadi bisa dikirim sewaktu-waktu. Hanya Tuhan, staff pengirim fax dan penerima fax pertama yang tahu.

Penyebab 3 – Konsumen tidak Punya Pilihan

Karena ini PROSEDUR… maka konsumen tidak punya pilihan. Either you follow the rules or happy for losing your money. But either way you lose…

Penyebab 4 – Salah Transaksi Bukan Salah Konsumen, Seharusnya Prosedur Penyanggahan Tidak Berbelit-Belit

Saya ngga habis pikir, kenapa menyanggah transaksi perbankan harus berbelit-belit. SUDAH JELAS, bahwa jika uang tidak keluar dari ATM, maka ketika pengecekan balance cash (yang secara logika harus dilakukan minimal 1 hari sekali), cash dan nota itu tidak balance. Jadi pihak bank pasti tahu bahwa uang itu tidak keluar. Jika sudah tahu, seharusnya pula, menurut saya, Bank secara otomatis mengembalikan uang nasabahnya. Bukan menunggu nasabah tersebut claim, dan disodori prosedur berbelit-belit. Jadi ngga enak, soalnya jadi kayak perampok nih…

Penyebab 5 – HSBC Pernah Dengar yang namanya Email?

Masak belum sih? Email, yang dikirim via secure server, yang secara teknis di encrypt, jauh lebih aman daripada fax pak…

Penyebab 6 – Slogan HSBC tidak relevan

“SAVE PAPER – THINK BEFORE YOU PRINT!” Hubungi consultan branding anda, lewat FAX kalau perlu, dan minta mereka cari pengganti slogan ini, ngga nyambung!

Kesimpulan

Ah kenapa sih si Robin ini ngotot banget cuma duit sejuta saja, besok juga dapet lagi. Oh, saya tidak asal ngomong nih, saya punya alasan:

  • Orang di negara ini, selain orang yang mendapat warisan orang tua, setengah mampus mencari uang Rp 1.000.000,-. Saya pun tidak dapatkan uang tersebut cuma-cuma.
  • Secara logika, tidak mungkin kasus sejenis hanya menimpa saya saja. BERAPA untungnya HSBC hanya dengan mendapat revenue dari kesalahan-kesalahan transaksi sejenis? Enak banget… Jadi penasaran, masuk ke post income mana ya revenue sejenis di Laporan Keuangan mereka?

Tapi meski kesal sakit hati dan marah, saya tetap mendapat hiburan :).

Oh ya? Iya. Perusahaan tidak becus, biasanya mudah dikenali hanya dengan melihat prosedur-prosedur yang mereka terapkan dalam mengoperasikan bisnis (lihat saja Astro…). Terakhir, prosedur sejenis merugikan konsumen, dan konsumen itu tidak bodoh. Cepat atau lambat, HSBC akan kena batunya. We’ll see.

Hati-hati Ambil Uang Cash Kartu Kredit HSBC di ATM BCA

Lagi-lagi masalah ATM, heran, seperti tidak ada habisnya masalah seperti ini. Saya jadi berpikir, sepertinya memang orang-orang bank ini penyakit di negara ini. Tapi lagi-lagi masyarakat ngga bisa apa-apa karena kita semua butuh bank. Nowhere to hide, no place to run. Tapi, saya yakin. Jika bank-bank ini terus diingatkan, pasti masih ada harapan.

Selama ini HSBC adalah kartu kredit favorit saya, sampai hari ini saya bicara dengan customer service mereka yang bernama Ririn. Sepertinya saya bisa berubah pikiran. Apakah HSBC ini sama saja dengan bank lain atau si Ririn ini doang yang memang brengsek? Maaf kata-kata saya, tapi saya rasa si Ririn ini memang brengsek.

Awal kejadiannya begini.

Kejadian terjadi pada tanggal 20 Oktober 2008, di ATM BCA Kuta, depan Pepito Supermarket.

Saya withdraw dana sebesar Rp 1.500.000,-, dalam pecahan Rp 500.000,- sebanyak tiga kali. Saya mengambil pecahan Rp 500.000,- karena ATM BCA menolak ketika saya mencoba mengambil opsi Rp 1.000.000,-. Ok, saya pikir ngga ada masalah.

Keesokan harinya, subuh setelah selesai bekerja, saya login ke HSBC internet Banking saya, dan kaget melihat ada tagihan Rp 1.000.000,- (selain Rp 1.500.000,- yang saya withdraw). Saya telepon layanan customer service HSBC yang konon 24 jam sekitar jam 06.30 WITA. Setelah nada sibuk (Call Center sibuk jam 5.30 WIB???) dan nomor kartu kredit saya tidak diterima, akhirnya telepon saya diterima oleh seorang karyawan ngantuk bernama, sebut saja Tono. Namanya saya lupa. Yang pasti berlogat cadel dan sangat sopan.

Tono, setelah konfirmasi identitas pribadi saya, mengkonfirmasi bahwa saat itu mereka sedang menghadapi ‘keterbatasan system’ (entah apa maksudnya…), jadi menyarankan saya untuk menelepon kembali di jam kantor. Tono juga menyebutkan bahwa penyanggahan transaksi bisa dilakukan hanya lewat fax. Saya sempat bertanya,

Hanya bisa lewat fax? Ngga bisa lewat email?.

Tono menjawab,

Ya. Hanya lewat fax. Tetapi karena kami sedang menghadapi keterbatasan system, mohon bapak menelepon kembali pada jam kantor.

Ok. Saat itu saya pikir fair enough. Karena subuh, dan Customer Service juga Manusia.

Saya tidak sempat telepon lagi sampai sore hari ini. Saya telepon ke Call Center dan kali ini diterima karyawati bernama Ririn. Awalnya saya berpikiran positif, karena selama ini pelayanan HSBC selalu yang terbaik (selain Bank Mandiri). Ketika konfirmasi identitas pribadi, entah mengapa, sepertinya Ririn ini sudah ngga sreg. Ya mboh, kemarin pagi saya konfirmasi dengan data yang sama koq diterima sama si Tono?

Setelah, kembali menjelaskan permasalah saya, Ririn tiba-tiba nyela

Pak, transaksi seperti ini tidak bisa disanggah karena ada ATM dan Pin kartunya (artinya mungkin… berarti transaksinya sah).

Saya bilang,

Hey sebentar. Ngga mungkin ngga bisa disanggah. Ngga masuk akal. Setiap hari, Bank pasti memeriksa transaksi ATM-nya. Jika ada nota uang keluar Rp 1.000.000,- tapi cash-nya tidak keluar Rp 1.000.000,-, berarti ujung-ujungnya pasti jadi tidak balance.

Akhirnya si Ririn ini memeriksa lagi, entah apa yang diperiksa wong semua sudah jelas dan masuk akal, dan kemudian melembutkan nadanya.

Ok pak. Jika ingin menyanggah transaksi ini, maka kami akan mengirimkan formulir penyanggahan lewat fax.

Saya mengulang lagi pertanyaan saya

Harus pake fax? Ngga bisa dikirim lewat pos atau lewat email? Bagaimana dengan konsumen yang tidak punya mesin fax dirumahnya?

Ririn menjawab,

Ngga bisa pak, kalau mau HARUS pake fax atau datang ke kantor cabang kami.

Ok. Saya sudah kesal.

Ya kelihatan sih, sistem online banking kalian juga tidak bagus (maksud saya, kalo sistem online ngga bagus, berarti mereka juga ngga bisa melayani masalah sejenis via email).

Dalam hati saya, Ririn ini tidak ‘ngeuh’ sama permasalahan konsumen yang sedang ia layani. Bagaimana saya bisa datang ke kantor cabang HSBC wong cabangnya belum ada di Bali?

Ngga lulus training, otaknya ‘ngga nyampe’ atau memang tidak perduli? Atas nama prosedur, I condemn you, my beloved customer…!

Anyway, akhirnya saya mencoba menawarkan solusi yang paling masuk akal.

Mbak, saya, atau saya bisa suruh orang menunggu di wartel. Tapi bisa ngga saat saya telepon, Fax-nya langsung dikirim.

Ririn dengan ringan menjawab,

Mungkin bisa di jam kantor, tapi ngga janji ya pak. Soalnya yang kirim fax bagian Admin.

Dalam hati saya lagi, ini si Ririn menganggap dirinya terlalu cool untuk mengirim fax, atau memang terlalu sulit menghubungi bagian Admin untuk mengirimkan fax? Bukannya ada telepon internal antar ekstensi?

Ririn, ck ck ck. Anda ini penyakit.

HSBC, training ulang karyawan anda!!

Kesimpulan:

  1. Ini masalah ketidakmampuan sistem operasi bank-bank hebat ini, tapi konsumen yang harus menanggung akibatnya.
  2. Saya tidak tahu ini masalah di BCA atau HSBC. Tapi karena saya nasabah HSBC, bukan BCA, saya akan menuntut HSBC bukan BCA.
  3. Transaksi sejenis tidak mungkin ‘tidak bisa dibantah’. Sudah jelas ATM BCA di depan Supermarket Pepito hari itu tidak balance. Ada nota uang keluar, tapi ngga ada uang keluar.
  4. HSBC tidak konsisten dengan kampanye Print Less, Save Paper. Kenapa tidak bisa lewat email? Apakah anda tidak tahu anda bisa melakukan electronic sign menggunakan Adobe Acrobat? Perlu saya belikan lisensinya?
  5. Kenapa Tono sopan (ini pasti standar Excellence Service) tapi Ririn galak?
  6. HSBC harus mengobati atau men-training kembali karyawannya yang stres, tidak sopan dan galak. Dan mohon juga sampaikan kepada mereka bahwa tidak semua nasabah HSBC yang menelepon ke Call Center itu orang bodoh yang mau saja terima apa yang Customer Service katakan.
  7. Kenapa mengirimkan token internet banking, mengirim brosur-brosur promosi dan tagihan bisa lewat pos dan formulir penyanggahan transaksi tidak????
  8. Seharusnya akuisisi mayoritas saham Bank Ekonomi (sebuah langkah investasi besar) diimbangi dengan investasi pada ‘hal-hal kecil’ seperti pelayanan nasabah.
  9. Jika akhirnya saya gagal menolak transaksi ini, mudah-mudahan HSBC bisa melakukan akuisisi aset-aset lain ayau memperbesar lagi skala operasinya dari keuntungan salah transaksi sejenis. Saya yakin ini bukan kejadian pertama kalinya. Dan HSBC untung besar dengan transaksi-transaksi sejenis ini. Hitung saja 1 kesalahan perhari di 1 kabupaten. Sebut saja pula ada 100 kabupaten. Sehari mereka sudah untung Rp 100.000.000,-. Sebulan berapa? Setahun berapa? Kalo ngga re-investasi, cukup deh untuk liburan karyawan seperti si Ririn ke Bali liat pantai biar ngga stres.
  10. Jika akhirnya berhasil, maka tetap saja karyawan anda di training kembali (atau diganti) dan prosedur sejenis, yang merupakan kesalahan sistem anda sendiri, ditinjau kembali.

Terimakasih.

Robin Malau, SS., MM

robin at robinmalau dot com

Pengalaman Buruk Dengan Standard Chartered Bank

 standard charteredSaya adalah pemegang kartu kredit Standard Chartered nomor 4511 9700 0028 xxxx sejak tahun 2001, beberapa waktu yang lalu sebelum lebaran saya mendapatkan sms agar melakukan pembayaran sebelum tgl dua puluh sekian dikarenakan bank akan tutup selama beberapa hari karena lebaran. Dan saya membayar pada tanggal 16 September.

Ternyata pembayaran saya itu dimasukkan ke dalam pembayaran bulan sebelumnya, yaitu pembayaran bulan September sehingga terjadi 2 kali pembayaran di tagihan bulan tersebut.

Hari ini saya ditelepon oleh bagian penagihan bernama DIANA dengan cara yang sangat kasar dan sambil memaki dan membentak saya, dia bilang tagihan saya sudah jatuh tempo dan menyuruh saya membayar. Saya terkejut karena saya belum menerima tagihan dan seingat saya jatuh tempo kartu saya adalah di awal bulan, tentu saja saya bingung, eh malah saya makin dimaki maki..saya bilang bahwa saya selalu tertib membayar, malah dia bilang suruh buktikan sekarang, saya bilang saya sedang diluar dan belum bisa cek, dia nya tertawa sinis…

Akhirnya setelah saya bisa cek, dan saya baru ingat bahwa saya ada pembayaran yg saya majukan karena memang diminta dikarenakan BI akan libur beberapa hari, yang ternyata malah dicatatkan untuk tagihan saya bulan sebelumnya…

Lalu saya menelpon ke Customer Service, dan mengajukan complain soal kelakuan si Diana ini, tapi saya hanya dijanjikan akan di kabarin lagi dalam 2 minggu.

Terus terang saya masih sakit hati, dan saya coba telpon ke nomor si Diana yang tadi dipakai menelpon saya juga susah.

Akhirnya saya menulis disini, barangkali ada rekans yang berasal dari Standard Chartered untuk bisa dijadikan masukan..syukur syukur si Diana sendiri yang membaca …

Pengalaman buruk ini membuat saya semakin ragu2 akan nama besar Standard chartered bank, yang memilih karyawan dengan standar yang rendah!!

Ada yg punya pengalaman yang sama??

 

Budi Seputro
Taman alamanda D 11, Jl. Kabupaten
Jogjakarta 50000
08155556666

HSBC, The Local Primitive Bank

Saya adalah pemegang kartu kredit HSBC dengan No. 4472 1111 0114 xxxx(Visa) dan No. 5184 9401 0147 xxx (Master)

Hari ini saya telp ke HSBC di 5291-4722 dari jam 12.30 siang dengan keperluan untuk menanyakan jumlah point program Membar Get Member yang di tawarkan kartu kredit HSBC.

Di karenakan saya jarang menelepon call centre HSBC, maka saya tidak menghapal No. Phone Banking HSBC. Oleh karena itu saya menggunakan layanan Customer Service.

Telp 1 & 2, tidak ada jawaban dari CS.

Continue reading