Kesewenang-wenangan Pengurus Apartemen Gading Mediterania Residences Kelapa Gading

Saya pemilik unit di Apartemen Gading Mediterania Residences (GMR) Kelapa Gading. Sejak kami mulai tinggal di unit ini tahun 2006 hingga saat ini, tagihan listrik, air dan Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) serta beban bersama (Sinking Fund – SF) selalu kami bayar lunas tepat waktu, dan semua berjalan normal.

Masalah muncul pada Januari 2011, saat pihak Pengurus PPRS menerbitkan surat pemberitahuan yang diumumkan di media informasi apartemen tentang kenaikan biaya IPL dan SF, yang semula Rp 6.900/m2 menjadi Rp 9.000/m2, per 1 Februari 2011 tanpa melalui mekanisme yang telah ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) PPRS GMR, yaitu berdasarkan rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Perhimpunan (APBP) yang ditetapkan oleh Rapat Umum Anggota (RUA).

Sedangkan sejak diadakan terakhir kali pada tahun 2009, RUA PPRS GMR belum pernah diadakan lagi, yang juga merupakan pelanggaran terhadap ART. Atas inisiatif warga, pada tanggal 1 Februari 2011 diadakan pertemuan antara warga dan Pengurus PPRS, yang menghasilkan 4 butir keputusan yang ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris PPRS. Intinya, penundaan kenaikan IPL dan SF hingga diadakan rapat yang dihadiri dan diadakan di balai warga Apt GMR, serta kenaikan harus disetujui oleh warga yang hadir.

Namun alih-alih memenuhi keputusan pertemuan tersebut, sekali lagi pihak Pengurus PPRS secara sepihak mengumumkan kenaikan IPL dan SF per tanggal 1 Mei 2011 melalui surat pengumuman bertanggal 30 Maret 2011. Masukan dan keluhan warga yang keberatan dan menolak kenaikan secara sepihak ini tidak ditanggapi dengan baik.

Sejumlah warga yang membayar dengan tarif lama mendapat ‘ancaman’ akan diputuskan aliran listrik dan airnya jika tidak melunasi dengan tarif baru. Beberapa warga yang ingin bertemu dengan Pengurus dan Manager Pengelola pun tidak ditanggapi. Kami selaku warga bukannya menolak segala bentuk kenaikan / penyesuaian tarif.

Kami hanya ingin agar hak-hak warga dilindungi dan Pengurus memenuhi kewajiban-kewajibannya, sebagaimana diamanatkan dalam AD-ART PPRS, yang notabene ditandatangani sendiri oleh Pengurus. Sikap Pengurus yang tidak transparan dan tidak komunikatif menimbulkan kecurigaan warga terhadap kejujuran Pengurus dalam pengelolaan dana warga.

Agung Seno
aseno73@yahoo.com

Nama besar Agung Podomoro Group bukanlah Jaminan

Mohon Berhati-hati jika anda ingin mencari / membeli unit apartemen AGUNG PODOMORO GROUP (APG), pada tanggal 22 Agustus 2010 yang lalu saya dipaksa oleh pihak marketing Seasons City untuk saat itu juga membayar booking fee sebesar Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) No. Kuitansi : 00021352 supaya dapat mengikat unit TB/25/CB.

Alasan mereka harga akan segera naik dan promo akan segera berakhir, tentu saja saya sangat yakin dengan semua ucapan mereka; karena mereka berjanji apabila nanti discount dan promo cicilan tidak sesuai maka uang booking fee yang telah dibayar dapat dikembalikan.

Kemudian saya diminta untuk menandatangani unit pesanan dan form pengajuan special promo, dibenak pikiran saya waktu itu sangat yakin dan percaya dengan janji Bpk Andi J.K. selaku sales mgr disana akan mengajukan ke pihak direksi perihal permohonan special promo unit apartemen saya.

Tiba-tiba saya sangat terkejut mendapat kabar dari beliau bahwa permohonan saya di tolak oleh pihak direksi, sepontan saya sangat kaget dan sangat kecewa karena impian saya ingin memiliki apartemen Seasons City menjadi sirna.

Tidak hanya sampai disitu kekecewaan saya bertambah pahit lagi, ketika saya mencoba untuk meminta kembali uang booking fee yang telah saya bayar, namun saya tunggu sampai sekarang ini belum juga dikembalikan sedikitpun.

Saya benar-benar sangat tertipu dengan nama besar APG, yang selama ini saya pikir bisa memberikan jaminan kepuasan dan kepercayaan terhadap konsumen; ternyata mereka telah terbukti sebagai salah satu developer ternama yang suka memperdayai orang kecil yang baru ingin memiliki apartemen untuk tempat tinggal.

-Nugroho Kristian Hartanto-
nugie_79@hotmail.com

Pemasangan Listrik dan Keamanan di Perumahan Bukit Dago Mengecewakan

Kami membeli sebuah rumah di perumahan Bukit Dago yang dikembangkan oleh PT. Dituka Raharja pada akhir tahun 2007. Setelah lunas membayar uang muka, kami pun langsung membayar biaya pemasangan sambungan listrik sebanyak Rp 1.000.000,00 pada tanggal 14 November 2007. Namun listrik belum dipasang juga hingga kami menempati rumah tersebut pada pertengahan bulan Mei 2008. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, kami disarankan untuk menarik dari sambungan dari tetangga di belakang rumah yang sudah dipasang listrik tapi belum ditempati, tentu saja dengan persetujuan pemilik rumah tersebut. Pada saat itu, pihak proyek yang diwakili oleh saudara Ichsan dan saudara Nawawi berjanji untuk segera merealisasikan penyambungan listrik di rumah kami. Akan tetapi hingga saat ini, Februari 2009, listrik belum juga sampai ke rumah kami.

Kami sudah berkali-kali menanyakan hal ini kepada pihak proyek, namun jawabnya selalu bulan depan, belum ada berita dari kantor pusat atau belum ada persetujuan dari PLN. Padahal, rumah-rumah baru yang dibangun kemudian, sambungan listriknya telah dipasang. Kami pun sudah berusaha bertanya kepada pihak pusat pengembang perumahan Bukit Dago, yaitu Grup Duta Putra yang berada di Menara DEA, Kuningan, namun selalu dioper kesana kemari hingga menghabiskan pulsa. Pada akhirnya kami selalu diberi informasi bahwa pengurusan listrik di perumahan Bukit Dago ini ditangani oleh Pak Riki. Namun dari 5 kali telefon kami ke kantor pusat, yang namanya Pak Riki ini selalu tidak bisa ditemui dengan berbagai alasan, sedang online, sedang keluar kantor, sedang meeting dan lain sebagainya. Hal ini membuat kami berfikir bahwa Pak Riki ini adalah tokoh fiktif untuk tameng menghadapi komplain konsumen.

Selain masalah listrik, kami mempunyai keluhan lain terhadap pihak pengembang perumahan bukit dago ini, yaitu masalah keamanan. Beberapa minggu yang lalu, kami membeli 10 batang bambu yang kami letakkan di depan rumah. Pada hari selasa awal bulan Februari 2009, tanpa sepengetahuan dan seizin kami, bambu-bambu tersebut diangkut oleh pihak proyek bukit dago. Kami yakin bahwa yang mengambil bambu tersebut adalah pihak proyek, karena ada dua orang saksi mata yang melihat kejadian tersebut, bahkan bisa mengenali dan menunjuk oknum yang melakukan hal itu. Pada sore hari itu juga, sepulang kerja, kami mencoba mengklarifikasi tersebut pada pihak keamanan dan manajemen proyek, akan tetapi mereka menyangkal hal tersebut. Mereka berjanji akan menyelidiki lebih lanjut dan kemudian menyampaikannya pada kami. Akan tetapi sampai lebih dari satu minggu dari kejadian, tidak ada berita apapun dari pihak proyek Bukit Dago.

Hal-hal diatas membuat kami sangat kecewa terhadap perumahan Bukit Dago. Sebagai warga, kami diabaikan dan tidak mendapat perlindungan seperti yang mereka janjikan (keamanan sistem cluster selama 24 jam). Olehkarena itu, bagi yang hendak membeli rumah di perumahan ini, kami sarankan untuk mempertimbangkan kembali, dan kalau bisa pilihlah pengembang lain yang lebih bisa dipercaya.

 

Niken Atmi

Jalan Ciledug Raya Kav 109

Telp: 0217394422

Janji PT. Megapolitan Tidak Dapat Dipegang

Saya selaku pembeli di Perumahan Tatya Asri Blok JD19 sangat kecewa dengan janji yang dilontarkan oleh Pihak Pengembang yang dalam hal ini adalah PT. Megapolitan melalui sales marketing mereka. Saat akan membeli rumah dijanjikan bahwa rumah akan segera dibangun 2 bulan setelah akad kredit dilakukan. Saya telah melakukan akad kredit pada tanggal 17 Januari 2008 didepan notaris dengan menggunakan BNI Griya sebagai pemberi dana pinjaman, semua pembayaran telah dilakukan dengan baik.

Continue reading