Indovision dan Sistem Pelayanan yang Jenius

Saya berlangganan Indovision sejak Astro mati. Saya memaksakan berlangganan televisi berbayar karena saya tidak tahan menonton TV lokal yang isinya hanya iklan, tayangan kekerasan, cerita cerai selebriti dan kebodohan ala sinetron. Mau jadi apa anak saya diberi tontonan seperti itu. Ya sudah, saat Astro resmi mati, saya langsung mendaftar Indovision. Saya tahu Indovision bukan pilihan yang terbaik (makanya waktu itu kami milih Astro), tapi karena tidak ada pilihan lagi, ya Indovision akhirnya jadi pilihan terbaik.

Ketika mendaftar, seperti biasa, proses administrasi tidak pernah muncul masalah. Setelah bayar-membayar, teknisi Indovision mengirimkan parabola dan memasangkannya. Tetapi setelah dipasang, kami harus menelepon bolak-balik agen Indovision di Bali, kantor cabang di Bali, dan kantor di Jakarta hanya sekedar memohon untuk mengaktifkan TV langganan kami yang sudah kami bayar di muka. Setelah sekitar sebulan menelepon setiap hari, dan diajarkan main pingpong1 , akhirnya Indovision nyala. Saya ingat, kami sekeluarga seperti menemukan keajaiban yang datang dari Surga. INDOVISION NYALA! WOW HEBAT! Horeeee!

Sejak nyala, masalah demi masalah datang. Dan penanganan-penanganan, yang saya percaya bukan kesalahan karyawan Indovision, tetapi sistem yang ada untuk memecahkan masalah pelanggan pun kami terima. Saya sudah lupa detilnya. Saya lupakan. Karena saya cukup mampu untuk mengerti bahwa memang tidak ada yang sempurna, termasuk dalam pelayanan perusahaan terhadap pelanggan.

Tetapi, ada 2 kejadian, termasuk kejadian hari ini yang saya tidak akan bisa lupakan.

Kejadian pertama adalah ketika Indovision melakukan upgrade sistemnya untuk mengingkatkan kualitas siaran beberapa bulan yang lalu. Siaran tiba-tiba mati beberapa hari. Saat itu, tidak diberitahu kapan siaran dapat berjalan lagi, sampai istri saya menelepon (dan main pingpong lagi) ke kantor cabang Indovision di Bali. Istri saya diberitahu bahwa kami harus membayar lagi Rp 100.000,-, untuk melanjutkan berlangganan dengan sistem network, atau apalah namanya, yang sudah di upgrade. Permasalahannya bukan masalah jumlah koq. Kalau ngga salah cuma Rp 100.000,-. Tentu saya mampu membayar sejumlah itu. Tetapi, mengapa tidak ada pemberitahuan bagaimana cara bermainnya di muka, ketika mereka melakukan perbaikan atau upgrade sistem? Sekarang hitungannya, berapa jumlah pelanggan Indovision yang membayar untuk melakukan upgrade, 100rb orang? 200rb orang? 1juta pelanggan? Sekarang kalikan saja jumlah itu dengan Rp 100.000,-. Lumayan tuh dapet duit segitu dari hasil ‘nodong’ pelanggan. Mungkin membayar upgrade memang tidak terhindarkan, tentu, saya juga bayar koq. Hanya, orang yang tidak mempunyai gelar Sarjana Etis pun mengerti ini melanggar etika. Setahu saya, status legal Indovision itu Perseroan Terbatas, bukan Premanisme Tak Terbatas.

Kejadian kedua, terjadi hari ini. Pagi tadi, istri saya menemukan siaran Indovision mati. Sedikit latar belakang yang mungkin berhubungan dengan kerusakan siaran hari ini, mungkin juga tidak. Jadi, siaran di TV kami selama ini memang putus-putus. Rasanya seperti nonton DVD bajakan yang piringannya tergores-gores. Putus-putus gitu. Akhirnya, kami menelepon salah satu teknisi yang kami tahu untuk memperbaiki. Kami kenal dengan teknisi itu karena waktu itu kami kesulitan memanggil teknisi ‘resmi’ Indovision, dan bapak ini sudah memasangkan parabola di rumah kami sejak jaman Astro dan Indovision. Bapak teknisi datang dengan sigap seperti biasa, dan langsung menemukan permasalahannya, di antena Indovision kami. Bapak tadi memberikan solusi dengan membungkus bulatan di parabola (dengan alumunium foil), dan siaran kami pun jadi bagus lagi. Tapi hanya sementara. Bapak teknisi menyarankan untuk mengganti elemen parabola nya, dan menyarankan untuk segera menelepon Indovision karena biasanya untuk menggantinya, Indovision membutuhkan waktu hingga sebulan. Maka, berdasarkan laporan bapak teknisi tadi, kami menelepon Indovision untuk meminta penggantian parabola.

Saat itu pihak Indovision mengatakan:

Nanti aja telepon lagi kalo siaran nya sudah mati.

Istri saya heran (jelas, orang bego juga pasti heran), dia jawab:

Koq nunggu mati? Bukannya untuk penggantian begitu anda butuh waktu sebulan? Jadi kapan kami nontonnya?

CS Indovision menjawab:

Iya, tapi kalau belum mati belum bisa diganti bu…

LEBIH JENIUS DARI EINSTEIN!

Ya sudah, mau ngomong apa lagi kalo berurusan dengan sistem (bukan salah karyawan, salah sistem) yang diperuntukkan untuk orang-orang jenius. Pelanggan pasti kalah. Akhirnya kami melanjutkan menonton Indovision, membayar iuran bulanan Rp 500.000,-, dan mendapat tampilan siaran seperti DVD bajakan selama lebih dari 3 sebulan. Hingga, pagi ini mati total. Istri saya menelepon Indovision lagi, dan jawabannya:

Baik bu, kami akan mengirimkan teknisi ke rumah ibu. Paling lama tiga hari sudah datang.

Saya menepuk jidat saya seakan tak percaya, perusahaan sebesar2 Indovision koq bisa-bisanya punya sistem seperti itu. Orang tidak bicara juga ngerti koq ini merugikan pelanggan, cuma mereka mungkin diam saja, atau kita tidak tahu mereka juga mengeluh tapi tidak terdengar.

Seperti saya ungkapkan di pembukaan cerita ini, saya tidak akan memilih Indovision jika ada pilihan lain. Entah siapa yang bisa memecahkan masalah ini, masalah ketidakmampuan menciptakan kompetisi di industri yang market size nya besar. Yang pasti ya kita sendiri, orang Indonesia yang tinggal di Indonesia. Siapa lagi?

Robin Malau, Kuta Bali


  1. “Oh bukan tanggung jawab pihak kami, coba telepon ke cabang”. Ketika menelepon kantor cabang, oh itu di pihak pusat bu, silahkan menghubungi langsung”. Dan seterusnya.
  2. Besar memang bukan berarti Kualitas.


8 thoughts on “Indovision dan Sistem Pelayanan yang Jenius

  1. Kekecewaan atas INDOVISION juga menimpa saya. Saat saya akan memasang INDOVISION yg saat itu buka outlet di Carefour MT Haryono, Jakarta, sang sales menjanjikan akan terpasang 3 hari atau paling lama 4 hari setelah pembayaran. Waktu itu langsung dibayar oleh istri saya 2 bulan dimuka atas saran sang sales. Setelah ditunggu 5 hari, ternyata pemasangan belum dilaksanakan, yang saat itu saya harus mengorbankan waktu untuk menunggu tehnisi pemasangnya.
    Saking kesalnya, malam itu juga sekitar jam 8 pm, saya berangkat ke carefour untuk menagih janji ke sang sales. Dalam niatan saya, seandainya sang sales tidak bisa menepati janji, akan saya bawa paksa dia ke polisi dengan ancaman pasal pidana penipuan dan juga akan saya tuntut INDOVISION yang tidak menepati janji ke konsumen sesuai UU no.8 tentang perlindungan konsumen. Sesampai di carefour saya pinta paksa KTP sang sales utk jaminan kalau sampai 3 jam ke depan tidak ada pemasangan langsung saya tindaklanjuti secara hukum. Untungnya 30 menit kemudian istri saya dirumah sms bahwa tehnisi INDOVISION sudah datang. Tetapi saya masih menyimpan kekecewaan atas ketidak profesional-an INDOVISION. Kalau bapak merasa dirugikan lagi dengan INDOVISION, tuntut saja secara hukum. Hak konsumen dilindungi kok oleh UU no.8 tentang perlindungan konsumen. Emang capek dikit sih, tapi setidaknya kita para konsumen juga nggak bisa diperlakukan seenaknya.
    Salam dari saya sesama pelanggan INDOVISION.

  2. setuju sekali dengan tulisan ini. Semuanya penipu. Saat penawaran kepada calon pemakai, bicara setinggi langit. TV kabel baguslah dan sebagainya. Tapi kenyataan-nya pelayanannya sangat buruk. Itulah Indonesia Raya.

  3. sebel sama pelayanan publik?? laporin ke YLKI!!

    solusinya:
    1.sebel sama indovision? putusin aja, gausah langganan
    2.sebel sama PLN? putusin aja gausah pake listrik, pake petromak aja..
    3.sebel sama PDAM? putusin aja gausah punya aer! mandi pake pasir sono..
    4.sebel sama telkom? putusin aja gausah telpon2an, mulai biasakan tulis surat!!
    5.sebel juga sama kantor pos? gausah kirim surat, anter sendiri pake sepeda ontel!!
    6. sebel sama semuanya mati aja lu!!

    gua yakin yang nulis artikel diatas pasti pernah komplen sama ke 5 perusahaan pelayanan publik diatas, emang doyan ngeluh

    brisik!!

    • Jika YLKI berjalan dengan baik, mungkin keluhan-keluhan konsumen ada follow up nya. Tapi bukan berarti semua tugas harus dibebankan pada YLKI.

      Mengeluh terhadap pelayanan buruk tidak sama dengan sebal. Justru karena butuh, maka mengeluh. Masing-masing kan punya kewajiban. Konsumen telat bayar, ya diputus layanannya. Sementara itu perusahaan yang tidak becus, ya di komplen pelanggan. Dan, ke 5 ‘perusahaan publik’ yang Anda cantumkan diatas itu, kalau tidak becus, bukan tidak boleh di komplen. Peraturan dari mana itu?

      Jangan berhenti mengirimkan keluhan, sampai ‘perusahaan publik’ yang Anda sebutkan diatas, melayani pelanggan dengan sungguh-sungguh. Jangan mentang-mentang masyarakat butuh mereka, mereka bisa jadi seenaknya.

      Anda ini benar-benar tidak mengerti masalah. Ck ck ck…

  4. Indovision sangatlah licik, Hati Hati,

    Pelayan Indovision sangat burruk, ceritanya begini

    saya dulu berlanganan indovision, baru pasang 5 hari jadi buram, ada angin itu siaran langsung buram. parah, telepon CSnya, teknisinya datang beberapa hari kemudian udah gawat lagi itu siaran.

    akhirnya saya memutuskan, untuk berhenti beberapa bulan kemudian mana tahan bayar melulu tapi siarannya jelek, mana tiap komplen setengah mati susahnya sampai jernih siaran, parabolanya diiket pake tali rafia. duh…

    akhirnya dengan penuh perjuangan, dan waktu yang terbuang, teknisinya dtang juga untuk membongkar itu parabola….

    tahun berlalu… …….

    EH ANJENG banget tuh Indovision tiba tiba nelpon bilang saya belum balikin antena parabola sama dekodernya. GILE!!! emang buat apaan??? emang kita bisa pake buat masak itu wajan??

    di telepon tiap hari … sampai kita bosan, minta kita tunjukan tanda terimanya buset dah…. bayangkan kayak kita nyimpan aja tanda terima itu.

    sampai ngancam pake polisi????

    sumpah kapok dah sama indovision. jagonya cari gara gara.

  5. indovision mengmang perlu di merger saja atau ganti boss nya saja
    mereka tdk mengerti arti pelayanan ,maunya untung saja
    sepertinya perusahaan ini menerapkan mongkey business
    di mana KPPU ? jangan tidur .baru dpt duit gede

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>