Kolonialisasi Tarif Internet

Judul artikel ini terinspirasi dari artikel di koran Kompas hari ini.

Baik urusan kantor, browsing website baru, baca RSS feeds, bikin website, update blog maupun sekedar chatting ringan dengan teman-teman; seharian penuh saya selalu terkoneksi ke internet.

Saya semakin kecanduan internet karena saya bisa merdeka dari koneksi dial-up yang lambat dan mahal itu kepada koneksi DSL yang lebih cepat. Dalam waktu penggunaan yang sama, sekarang saya bisa jauh lebih produktif dibanding sebelumnya.

Terus terang saja, saya menuliskan artikel ini karena saya baru saja memeriksa tagihan telepon rumah lewat Call Center 109 yang terdengar seperti di bawah ini:

Total tagihan anda bulan… JANUARI… Satu juta seratus ribu…

Saya langsung tutup gagang telepon saya. Ah sampai ke angka 1 juta lagi. Selama beberapa bulan terakhir, saya berhasil menurunkan total tagihan telepon hingga 500-600 ribu. Sejak tagihan bulan Desember, saya kena bayaran 1 juta begitu pula bulan ini. Setahu saya lebih dari setengah tagihan tersebut adalah bayaran koneksi ‘multimedia’ alias internet.

Jika saya hitung, kurang lebih saya terkoneksi selama 90 jam sebulan di rumah. Dengan paket 50 jam sehari yang disediakan Telkom Speedy, saya rata-rata membayar Rp 400.000,- + sebulan. Kecuali bulan Desember kemarin, saya berada di rumah selama 2 minggu karena liburan akhir tahun. Otomatis, waktu saya terkoneksi ke internet lebih banyak daripada biasanya (kecuali tanggal 25-26 Desember, Speedy down total!).

Saya membandingkan dengan tarif internet di luar negeri yang lebih cepat tetapi lebih murah. Sementara, di Indonesia, saya mengalami layanan penyedia ISP yang sangat buruk (termasuk Speedy) yang menciptakan efek jera (efek jera koq ke konsumen??). Tetapi, dibanding yang lain, Speedy masih yang terbaik di Bali. Walhasil, saya sangat ‘bergantung’ pada Speedy, begitu pula ribuan orang lain pengguna internet di pulau Dewata.

Dengan demikian, karena belum ada pesaing yang berarti, Speedy bisa tetap mematok harga yang relatif mahal. Ini akan berlangsung hingga entah kapan. Karena saya belum punya pilihan lain. Walhasil, saya masih harus merogoh kocek 400 ribu rupiah + sebulan untuk koneksi internet dalam bulan-bulan mendatang.

Saya dengar dari seorang teman di Jakarta, dia sekarang menggunakan koneksi internet kabel dengan tarif Rp 100.000 (+ PPN) sebulan. Free time usage alias bebas terkoneksi 24 jam sehari. Tapi ya di Jakarta. Di Bali? Sudahlah bayar saja tagihan Speedy-mu.

Apakah saya seorang korban kolonialisme tarif internet? Ya iya lah… Mau bagaimana lagi? Saya kan hanya seorang konsumen.

Ditulis pada January 15, 2008 | 1 Komentar | Di dalam kategori : Telekomunikasi

Ada satu komentar sejauh ini...

1. Rahmad Awaluddin, ST

emang susah om dinegara ini cari internet yang murah dan cepat… para pemimpin kita pada gaptek jadi nggak ngarti keuntungan internet murah buat rakyatnya…he2x
saran..
ikut speedy office aja om 750rb/bln unlimited…. syukur2 bisa dibagi ketetangga bandwithnya atau disharing lewat wifi jadi bayarnya rame2 bisa murah tuh… jadi kayak RT/RW net gitu… salam

Berkomentar pada September 18, 2008 03:11 pm
(harus diisi)
(kami menghormati privasi anda) (harus diisi)
(boleh diisi/tidak)