Korban Pertama Listrik Bali: Decoder Astro

by Konsumen on February 2, 2008 · 1 comment

Sejak pertama pindah ke Bali, kami sekeluarga berlangganan Astro. Seperti postingan saya sebelumnya saya nyatakan bahwa acara Sepak Bola Inggris Liga Premiership lebih baik di monopoli Astro. Tentu, karena dengan menonton lewat Astro, yang konsumen dapatkan adalah siaran relay dari ESPN dan Star Sports yang cenderung ‘lebih bermutu’ daripada TV lokal dan sponsor perusahaan rokok yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola sama sekali.

Hari ini, setelah listrik ngedrop, beberapa jam kemudian mati tiba-tiba (kami komplen dan dijawab dengan SABAR SABAR, SEMUANYA JUGA MATI LAMPU!!!), decoder Astro kami rusak. Kami coba telepon ke Call Center Astro dan konon katanya decoder kami mati dan harus menunggu 3-5 hari agar teknisi datang untuk memperbaiki atau mengganti. Kontan saya kaget, 3-5 hari? Staff di Call Center menjawab, bahwa itu adalah prosedur yang berlaku.

Saya heran, kenapa prosedurnya seperti itu. Yang saya tahu, jenis layanan Astro adalah jenis penyedia jasa hiburan, yang dibutuhkan oleh konsumen sepanjang waktu. Bagaimana bisa prosedur perbaikan yang disediakan makan waktu 3-5 hari? Jadi apa yang musti dilakukan pelanggan selama itu? Yang saya ingat, setiap saya terlambat membayar tagihan Astro (yang suka datang terlambat pula), maka koneksi TV kami selalu diputus dan kena charge penyambungan kembali.

Ah. Astro sudah melakukan monopoli siaran Liga Inggris, yang membuat pelanggan ‘bergantung’  pada mereka. Saya tidak masalah bergantung, karena toh saya sudah bergantung pada Telkom, PLN, dan perusahaan-perusahaan pemimpin pasar (yang tetap merugi). Apa bedanya? Yang pasti perjalanan hak-hak konsumen di Indonesia masih panjang dan tidak akan menang dalam waktu dekat. Tetapi, saya yakin, bukan hanya saya yang tidak akan pernah berhenti memperjuangkan hak konsumen yang terus menerus tertindas seperti ini.
Tetapi, ini logika sederhana. Menurut saya seharusnya prosedurnya tidak seperti itu. Waktu yang dibutuhkan terlalu lama dan tidak masuk akal. Jika tidak siap dengan infrastruktur, ya sebaiknya jangan monopoli. Karena akhirnya Astro hanya akan menjadi gajah besar yang tidak kompeten seperti perusahaan-perusahaan BUMN.

Pertanyaan saya kepada Astro adalah: Siapkah anda untuk menjadi pemain besar? Jika tidak, jangan heran jika makan siang anda dihabisi pesaing anda.

Leave a Comment

{ 1 trackback }

Previous post:

Next post: