Tarif Parkir ITC Depok

Mohon kepada segenap pengguna parkir di ITC Depok untuk tidak malu-malu meminta struk parkir anda. Kejadian yang saya alami sudah sering terjadi namun mereka (Petugas Loket) tidak pernah kapok menambahkan harga dari struk yang tertera.

Saat kita menyerahkan tanda masuk parkir dan dijawab oleh mereka sekian ribu padahal yang tersetera di struk tidak seperti yang mereka ucapkan, setelah kita ngotot minta struk parkir barulah mereka pura-pura salah membaca nilai yang tertera…

Terima kasih.

Saifullah Rais
Jl. Danau Batur 2 No. 49-50
Depok, Jawa Barat

Kecewa Akan Jasa Penanganan Tenant Gading Mediterania Residences

Apartemen hakekatnya adalah sebuah kawasan perumahan. namun mempunyai ruang vertikal, sehingga elemen-elemen pembentuknya juga sama dengan sebuah kawasan perkotaan yang tidak terlepas pada keunggulan SDM dalam pemeliharaan apartement.

Detail Berita Acaranya:
Teringat hari Sabtu, 12 Juni 2010, keluarga akan datang berkunjung ke unit kami yang baru, maka hari ini jumat, 11 juni 2010 saya dan suami datang ke manajemen apartemen minta di buatkan WO (working order) buat bor untuk lubang kabel antena TV di dinding kamar master room dan kamar tamu. Jujur hari ini aku sengaja bangun lebih pagi daripada biasanya, aku bangun jam 09.00 pagi, langsung telepon maintenance apartement dengan Bapak Agus sbg teknisi. Dari pembicaraan, kami di suruh membuat WO terlebih dahulu ke manajemen building. Saat sudah beres prosedurnya, kami menunggu di unit, karena kata Bapak Supri sebagai supervisor teknik yang lewat telepon kami bicara di depan mbak Dara sbg Cust Service, bahwa nanti satu orang yang akan membantu pekerjaan itu. Katanya lagi, kebetulan sedang tidak ada pekerjaan dan segera bisa dikerjakan.

Saya menunggu di unit, setelah 45 menit, akhirnya datang orang tehniknya, namun tidak sesuai yang dibicarakan di telepon dengan bpk Supri. Yang datang dua orang dan di dalam WO tidak tertera berapa yang harus di bayar. Tanpa komando yang jelas dari pemilik unit, yang mereka kerjaan sebatas yang mereka anggap benar, dan tidak menanyakan lebih detail kemauan dari pemilik unit.
Selang waktu 30 menit dari pengerjaan kabel antena TV yang menurut mereka sudah selesai, mereka tanpa menerangkan detail hasil pekerjaannya langsung meninggalkan kami, barang tergeletak tidak dirapihkan dan dengan gampang mengatakan akan kembali setelah sholat jumat. Setelah mereka kembali, kami putuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan tersebut dan mengeluarkan uang sebesar RP 75.000,-

Saya dan suami sudah kecewa sekali dengan tenant GMR yang tidak transparan dan tidak konduktif.


Renawati Saurmauli
Jl. Boulevard Bukit Gading Raya
Jakarta Utara, 14240

PENERBITAN CHIP ESIA BARU MILIK SAYA

Saya adalah Pelanggan Esia sejak tahun 2008 dengan nomor (0341) 9851234, pertamakali saya membeli nomor tersebut dari salah seorang marketing Esia Sdr. Aswin Vismawan (skrg sudah resign) dengan harga Rp. 25.000,-. Pada tanggal 12 Mei 2010, saya sementara meng offkan esia saya (status masih masa aktif) karena ada ancaman terror ke nomor saya tersebut di atas. Chip kartu tersebut masih ada pada saya.

Pada tanggal 31 mei 2010, saya mencoba menghubungi nomor tersebut diatas dan ternyata aktif dan dijawab oleh seorang laki2. Karena merasa ada kejanggalan, dimana chip saya off maka saya mendatangai GERAI ESIA Malang dan dilayani oleh CS Laki2 (saya lupa namanya). Saya curiga bahwa kartu saya telah diterbitkan chip baru oleh karyawan esia.

Saat saya datang, CS ( Laki-laki) dia mencoba membantu dengan menelusuri hal-hal sbg berikut :

  1. Saya coba aktifkan chip saya, tetapi tidak bisa digunakan (kejanggalan 1).
  2. CS ( Laki-laki ) berusaha menghubungi nomor saya, tetapi tidak aktif, padahal posisi chip saya adalah aktif (saya mencoba mengaktifkan chip saya) (kejanggalan 2).
  3. CS ( Laki-Laki ) mengatakan pada saya bahwa sisa pulsa saya adalah Rp. 8.000,-, padahal pada saat saya meng offkan posisi pulsa saya adalah Rp. 0,- dan terkhir pengisian pulsa adalah transfer pulsa sebesar Rp. 5.000,- jadi tidak mungkin sisa pulsa Rp. 8.000,- (kejanggalan 3).
  4. Nomor tersebut telah digunakan untuk menghubungi nomor hp orangtua saya dan teman-teman saya (miscall)

Saya mendesak kepada CS tersebut supaya bisa menjelaskan alasan yang logis dan kenapa secara system itu bisa terjadi, waktu saya menanyakan bahwa kemungkinan adanya chip baru, CS tersebut menyatakan tidak ada dan kemudian meminta bantuan kepada CS Kuriana dan jawaban dari CS Kuriana adalah :

“Nomor ibu telah tidak aktif selama 2 bulan, sehingga diterbitkan chip baru.”

Sungguh, saya sangat kecewa dengan jawaban CS Kuriana yang sangat mengada-ada. (Saya meng-offkan nomor saya pada tanggal 12 mei 2010) baru 2 minggu dan status kartu esia saya masih masa aktif, CS tersebut seolah2 membuat jawaban palsu supaya perbuatannya menggandakan chip tersebut bisa dibenarkan.

Tiba- tiba, ada telepon dari sdr. Reza (karyawan Esia bagian marketing) melalui HP. Sdr. Kuriana yang menyatakan bahwa Reza ingin bicara dengan saya mengenai Chip yang baru. Ada penyalahgunaan penggantian chip baru oleh pihak Esia Malang.

Kemudian saya bertemu dengan Dispatcher Gerai Malang (Sdr. Yufani Prihapsari). Jawaban dari Sdr. Yufani sangat mengecewakan dan sebagai head CS tidak konsisten, antara lain :

  1. Bahwa seorang AR Marketing di Esia bisa melakukan perubahan registrasi terhadap suatu kartu dan melakukan penggantian dengan menggunakan KTP Reza. Saat itu sdr. Yufani mengakui bahwa yang melakukan penggantian adalah sdr. Reza. Tetapi ketika saya menanyakan buku procedure yang menyatakan hal tersebut, sdr.Yufani tidak bisa menunjukkan dan mengatakan bahwa aturan tersebut secara eksplisit.
  2. Pada akhirnya saya mengetahui, bahwa registrasi terakhir masih atas nama sdr. Aswin Vismawan.
  3. Sdr. Yufani terkesan sangat melindungi perbuatan teman2nya baik CS Kuriani maupun Sdr. Reza
  4. Masalah kartu tersebut, saya bisa membuktikan bahwa sayalah pemilik akhir dari kartu tersebut yaitu saya masih memegang kartu chip lama saya (yang sekarang ditahan oleh sdr. Yufani) dan nama Aswin Vismawan pada register karena saat itu saya membeli nomor tersebut dari Sdr. Aswin (saat itu masih karyawan Esia).
  5. Nomor- Nomor yang sering saya hubungi adalah : 0341 9861234, 0341 5433***, 0341 6454***, 0341 9488***, 0341 7316***, 0341 9344***, 0341 9980***, 0341 8165***, 0341 7558***, 03415454***, 03419191***, 081615622***, 085933111***, 08123380***.
  6. Setelah saya pulang dari gerai esia, Sdr. Yufani menelpon saya dan memberitahukan bahwa penggantian kartu ada KTP a/n Aswin, yang pada awalnya disebutkan bahwa Sdr. Rezalah yang telah melakukan penggantian dan meregistrasi ulang (sesuai di layar monitor yang ditunjukkan ke saya) Saya melihat ada banyak kejanggalan dari seluruh petugas Esia Cabang Malang.
  7. Ada jawaban- jawaban yang berbeda yang diberikan oleh sdr. Yufani, dari semula penggantian dilakukan menggunakan KTP Sdr. Reza dan meregister ulang a.n. Sdr. Reza (setelah tau bahwa nama pada register adalah Sdr. Aswin), saya diberikan jawaban ke-2 bahwa registrasi benar-benar sesuai procedure ada KTP sdr. Aswin.
  8. Setahu saya, pada saat penggantian chip baru di operator manapun selalu menyebutkan nomor2 yang pernah dihubungi. Jika seandainya procedure tersebut dilakukan, saya yakin Sdr. Reza tidak dapat menyebutkannya (dan tidak akan ada chip baru) yang disalahgunakan untuk menelpon keluarga dan teman-teman saya.
  9. Saya sebagai konsumen Esia yang sudah berlanggananan selama 2 tahun lebih merasa sangat dirugikan oleh perbuatan para karyawan Esia cabang Malang.

Mohon perhatian Bapak pejabat bersangkut di Esia atas tindakan dan perbuatan petugas Esia yang sudah menyalahgunakan wewenangnya.

Hormat Saya,
Lusiani FH

Jl. Bunga Widara
Malang, Jawa Timur


Indosat IM2 TV & Internet Mengecewakan

Nama saya Rio, pelanggan IM2 dengan nomor 050300548.

Benar-benar mengecewakan berlangganan INDOSAT IM2 kabel TV & Internet! Sudah selama hampir 5 tahun saya berlangganan, 1 tahun pertama lancar dan memuaskan, tapi kemudian sampai sekarang tidak pernah beres, hampir setiap bulan pasti ada kerusakkan sampai hampir 1 minggu. TV buram dan internet putus.

Kemudian setiap di hubungi customer service, tidak ada yang mengerti permasalahan sama sekali, dan dengan jawaban setiap kali akan di eskalasikan ke bagian terkait tetapi bisa sampai berhari-hari tetap tidak ada perbaikan.

Kami pernah kebetulan dapat berbicara dengan bagian maintance yang memang mengerti permasalahan di area kami, mereka mengatakan dan mengakui memang ada jalur kabel ke area saya yang rusak dan mereka berjanji akan memperbaiki, tapi kenyataannya sampai sekarang sudah bertahun-tahun tidak pernah benar dan perkiraan saya selama ini selalu hanya diakali sementara, beberapa rumah yang berada dekat dengan saya juga mengeluhkan hal yang sama.

Karena disini tidak ada pilihan untuk berlangganan dengan vendor lain jadi terpaksa kita harus bertahan dengan Indosat ini.

Benar-benar payah dan mengecewakan sekali!

Belum lagi sangat mengganggu aktifitas, karena setiap sedang bermasalah kita harus mencari-cari alternatif internet lain atau harus pergi untuk mencari internet. Padahal kami selalu bayar tagihan dengan nilai penuh.

Kami tidak pernah minta banyak, kami hanya ingin service yg kami dapatkan sesuai dengan apa yang kami bayar untuk langganan.

Kami berharap perbaikan secepatnya.

Terima kasih.

Rio Koesnadi
rio.lsg@indosat.net.id


Ingkar Bayar Klaim, Sun Life Berdalih

SAYA sangat kecewa terhadap tindakan Sun Life Financial Indonesia yang hingga kini belum memenuhi kewajibannya membayarkan klaim kematian atas polis no 052960993 dengan tertanggung adalah ibu saya.

Pihak SUN LIFE malah berdalih tidak dapat membayarkan klaim kematian atas polis tersebut, karena ibu saya pernah melakukan rawat inap di RS. TK II Putri Hijau Bukit Barisan Medan dan tidak menginformasikan kondisi tersebut pada saat pengajuan polis.

Perlu diketahui, ibu saya sebelum dan sesudah mengajukan polis asuransi SUN LIFE adalah dalam kondisi yang sehat, tidak pernah rawat inap di rumah sakit. Pada November 2009 lalu, ia meninggal dunia karena kecelakaan terjatuh di kamar mandi.

Pada tanggal yang disebutkan oleh SUN LIFE bahwa ibu kami sedang opname di rumah sakit, saya memiliki bukti foto bahwa saya dan Ibu sedang menghadiri acara resepsi pesta. Bahkan dari data medis yang menjadi dalih penolakan bayar klaim oleh SUN LIFE, setelah saya melakukan pemeriksaan data langsung ke rumah sakit, saya mendapatkan fakta bahwa orang yang dinyatakan pernah rawat inap dan dianggap sebagai ibu saya oleh SUN LIFE, hingga saat ini masih sehat dan hidup.

Saya sangat menyayangkan sikap dari pihak SUN LIFE yang berusaha menghindar dari kewajiban bayar klaim secara tidak profesional, dan merasa dipermainkan oleh sikap SUN LIFE yang sangat berbelit-belit bahkan dipersulit pada saat menanyakan dalih SUN LIFE menolak klaim.

Melalui surat pembaca ini, diharapkan pihak asuransi SUN LIFE untuk dapat segera menyelesaikan permasalahan saya, dan agar hal ini tidak terulang kembali.

Hardiansen Wiharza
yansen@gmail.com


ADIRA BUAT TRAUMA ANAK

Hari ini (29-03-2010) kami dihubungi oleh ADIRA untuk melunasi cicilan. Kebetulan yang menerima telepon adalah putri kami. Nadanya yang membentak-bentak membuat putri kami trauma dan tidak mau mengangkat telepon lagi, apakah tidak ada cara menelepon yang lebih baik?

Kalau saya atau istri saya yang menerima telepon tsb mungkin tidak masalah kalau ADIRA membentak, tapi ini putri kami, kasihan Pak… masih keciill…

MOHON MENJADI PERHATIAN ADIRA FINANCE!
Terima kasih. (031-7440921 atau 031-60134119).
Nomor Kontrak : 0000948351xx

Abu Zidan
Jl.Wonorejo IV No.18
Surabaya


Indovision dan Sistem Pelayanan yang Jenius

Saya berlangganan Indovision sejak Astro mati. Saya memaksakan berlangganan televisi berbayar karena saya tidak tahan menonton TV lokal yang isinya hanya iklan, tayangan kekerasan, cerita cerai selebriti dan kebodohan ala sinetron. Mau jadi apa anak saya diberi tontonan seperti itu. Ya sudah, saat Astro resmi mati, saya langsung mendaftar Indovision. Saya tahu Indovision bukan pilihan yang terbaik (makanya waktu itu kami milih Astro), tapi karena tidak ada pilihan lagi, ya Indovision akhirnya jadi pilihan terbaik.

Ketika mendaftar, seperti biasa, proses administrasi tidak pernah muncul masalah. Setelah bayar-membayar, teknisi Indovision mengirimkan parabola dan memasangkannya. Tetapi setelah dipasang, kami harus menelepon bolak-balik agen Indovision di Bali, kantor cabang di Bali, dan kantor di Jakarta hanya sekedar memohon untuk mengaktifkan TV langganan kami yang sudah kami bayar di muka. Setelah sekitar sebulan menelepon setiap hari, dan diajarkan main pingpong1 , akhirnya Indovision nyala. Saya ingat, kami sekeluarga seperti menemukan keajaiban yang datang dari Surga. INDOVISION NYALA! WOW HEBAT! Horeeee!

Sejak nyala, masalah demi masalah datang. Dan penanganan-penanganan, yang saya percaya bukan kesalahan karyawan Indovision, tetapi sistem yang ada untuk memecahkan masalah pelanggan pun kami terima. Saya sudah lupa detilnya. Saya lupakan. Karena saya cukup mampu untuk mengerti bahwa memang tidak ada yang sempurna, termasuk dalam pelayanan perusahaan terhadap pelanggan.

Tetapi, ada 2 kejadian, termasuk kejadian hari ini yang saya tidak akan bisa lupakan.

Kejadian pertama adalah ketika Indovision melakukan upgrade sistemnya untuk mengingkatkan kualitas siaran beberapa bulan yang lalu. Siaran tiba-tiba mati beberapa hari. Saat itu, tidak diberitahu kapan siaran dapat berjalan lagi, sampai istri saya menelepon (dan main pingpong lagi) ke kantor cabang Indovision di Bali. Istri saya diberitahu bahwa kami harus membayar lagi Rp 100.000,-, untuk melanjutkan berlangganan dengan sistem network, atau apalah namanya, yang sudah di upgrade. Permasalahannya bukan masalah jumlah koq. Kalau ngga salah cuma Rp 100.000,-. Tentu saya mampu membayar sejumlah itu. Tetapi, mengapa tidak ada pemberitahuan bagaimana cara bermainnya di muka, ketika mereka melakukan perbaikan atau upgrade sistem? Sekarang hitungannya, berapa jumlah pelanggan Indovision yang membayar untuk melakukan upgrade, 100rb orang? 200rb orang? 1juta pelanggan? Sekarang kalikan saja jumlah itu dengan Rp 100.000,-. Lumayan tuh dapet duit segitu dari hasil ‘nodong’ pelanggan. Mungkin membayar upgrade memang tidak terhindarkan, tentu, saya juga bayar koq. Hanya, orang yang tidak mempunyai gelar Sarjana Etis pun mengerti ini melanggar etika. Setahu saya, status legal Indovision itu Perseroan Terbatas, bukan Premanisme Tak Terbatas.

Kejadian kedua, terjadi hari ini. Pagi tadi, istri saya menemukan siaran Indovision mati. Sedikit latar belakang yang mungkin berhubungan dengan kerusakan siaran hari ini, mungkin juga tidak. Jadi, siaran di TV kami selama ini memang putus-putus. Rasanya seperti nonton DVD bajakan yang piringannya tergores-gores. Putus-putus gitu. Akhirnya, kami menelepon salah satu teknisi yang kami tahu untuk memperbaiki. Kami kenal dengan teknisi itu karena waktu itu kami kesulitan memanggil teknisi ‘resmi’ Indovision, dan bapak ini sudah memasangkan parabola di rumah kami sejak jaman Astro dan Indovision. Bapak teknisi datang dengan sigap seperti biasa, dan langsung menemukan permasalahannya, di antena Indovision kami. Bapak tadi memberikan solusi dengan membungkus bulatan di parabola (dengan alumunium foil), dan siaran kami pun jadi bagus lagi. Tapi hanya sementara. Bapak teknisi menyarankan untuk mengganti elemen parabola nya, dan menyarankan untuk segera menelepon Indovision karena biasanya untuk menggantinya, Indovision membutuhkan waktu hingga sebulan. Maka, berdasarkan laporan bapak teknisi tadi, kami menelepon Indovision untuk meminta penggantian parabola.

Saat itu pihak Indovision mengatakan:

Nanti aja telepon lagi kalo siaran nya sudah mati.

Istri saya heran (jelas, orang bego juga pasti heran), dia jawab:

Koq nunggu mati? Bukannya untuk penggantian begitu anda butuh waktu sebulan? Jadi kapan kami nontonnya?

CS Indovision menjawab:

Iya, tapi kalau belum mati belum bisa diganti bu…

LEBIH JENIUS DARI EINSTEIN!

Ya sudah, mau ngomong apa lagi kalo berurusan dengan sistem (bukan salah karyawan, salah sistem) yang diperuntukkan untuk orang-orang jenius. Pelanggan pasti kalah. Akhirnya kami melanjutkan menonton Indovision, membayar iuran bulanan Rp 500.000,-, dan mendapat tampilan siaran seperti DVD bajakan selama lebih dari 3 sebulan. Hingga, pagi ini mati total. Istri saya menelepon Indovision lagi, dan jawabannya:

Baik bu, kami akan mengirimkan teknisi ke rumah ibu. Paling lama tiga hari sudah datang.

Saya menepuk jidat saya seakan tak percaya, perusahaan sebesar2 Indovision koq bisa-bisanya punya sistem seperti itu. Orang tidak bicara juga ngerti koq ini merugikan pelanggan, cuma mereka mungkin diam saja, atau kita tidak tahu mereka juga mengeluh tapi tidak terdengar.

Seperti saya ungkapkan di pembukaan cerita ini, saya tidak akan memilih Indovision jika ada pilihan lain. Entah siapa yang bisa memecahkan masalah ini, masalah ketidakmampuan menciptakan kompetisi di industri yang market size nya besar. Yang pasti ya kita sendiri, orang Indonesia yang tinggal di Indonesia. Siapa lagi?

Robin Malau, Kuta Bali


  1. “Oh bukan tanggung jawab pihak kami, coba telepon ke cabang”. Ketika menelepon kantor cabang, oh itu di pihak pusat bu, silahkan menghubungi langsung”. Dan seterusnya.
  2. Besar memang bukan berarti Kualitas.


Pengalaman Tidak Mengenakan di Bakmi Buncit BSD

Saya pelanggan tetap Bakmi Buncit BSD, sudah puluhan kali saya makan di sana. Malam ini sepulang dari tempat kerja, saya kembali datang ke Bakmi Buncit BSD dengan tujuan makan malam. Suasana restoran tidak terlalu ramai karena memang sudah jam 20.30 WIB.

Saya pun memesan menu Bakmi Buncit Spesial dan segelas es teh tawar. Suatu hal yang lumrah untuk menunggu menu makanan yang kita pesan selesai dibuat namun untuk es teh tawar saya kira sebetulnya dapat langsung diberikan. Mengingat pengalaman-pengalaman terdahulu di mana biasanya es teh tawar diantarkan kurang dari satu menit. Apalagi mengingat bahwa restoran tidak ramai dan saya melihat ada sekitar 2 pegawai yang berdiri diam menganggur.

Saya menunggu es teh tawar saya datang hingga sekitar sepuluh menit. Namun karena minuman yang saya pesan tidak kunjung datang, saya pun memanggil salah seorang pegawai yang berdiri menganggur. Saya menanyakan dengan baik-baik apakah es teh tawar saya sudah dibuatkan.

Pegawai (yang merangkap kasir) malam kemudian bertanya pada temannya dan sepertinya memang pesanan es teh tawar belum dibuatkan. Kasir/pegawai ini kemudian menjawab, “sudah ibu.” Namun karena pesanan itu tidak ada di meja saya, jadi saya kembali bertanya apa sudah dibuatkan dan kasir tersebut menjawab dengan nada judes dan kasar “tunggu sebentar ya Ibu..”

Terus terang saya sangat tidak nyaman diperlakukan demikian. Saya mengerti bahwa mungkin pegawai tersebut sedang capai namun saya kira tidak pada tempatnya seorang pelayan restoran memperlakukan pelanggan dengan tidak sopan seperti itu. Namun mengingat saya sudah terlalu capai, saya malas berdebat dengan pegawai kasir tersebut. Namun kemudian saya menyampaikan keluhan saya ini pada pegawai lain yang mengantarkan pesanan mie saya yang ternyata pesanan yang diantar juga tidak sesuai dengan pesanan saya (Saya dibawakan bakmi buncit mantap).

Pegawai tersebut memang meminta maaf namun si kasir tidak datang untuk meminta maaf dan terlihat berusaha menghindar. Sungguh amat disayangkan, salah satu restoran Bakmi yang selama ini saya ketahui sangat ramah pelayanannya ternyata tidak dapat menjaga citra baik yang selama ini tertanam di benak pelanggan tetap. Mungkin saya akan berpikir dua kali untuk kembali makan di Bakmi Buncit atau merekomendasikan Bakmi Buncit pada para kolega dan teman seperti yang selama ini saya sering lakukan.

Fransiska Irma
dr.fransiska@gmail.com


Kartu Matrix Pengganti 3 bulan Tidak Bisa Digunakan

Saya pemilik INDOSAT MATRIX 0855 1500 000. Saya melakukan kewajiban pembayaran melalui debit card.

Awal masalah di bulan JANUARI 2010 saat penggantian kartu MATRIX di CUSTOMER REPRESENTATIVE OFFICE Lippo karawaci karena hilang. Setelah diganti dan menunggu beberapa saat sesuai instruksi, ternyata kartu tdk berfungsi. Saya menghubungi CALL CENTER, lagi-lagi saya mengikuti arahannya, ternyata kartu tetap tidak dapat dipakai juga.

Saya mengambil inisiatif kembali menghubungi CUSTOMER REPRESENTATIVE OFFICE Lippo Kawaraci yang Ke-2 kalinya. Setelah dicek menurut mereka ternyata tidak ada masalah, tetapi SANGAT BERMASALAH buat saya customer yang lemah dan selalu dirugikan, karena kartu saya tidak jalan juga.

Masalah ini berlanjut TIDAK terselesaikan hingga berjalan bulan ke 3 (TIGA).

Apa tanggungjawab INDOSAT MATRIX setelah saya melakukan kewajiban saya. APAKAH Nomor saya akan HILANG ? SAMPAI kapan saya harus menunggu? APAKAH masalah saya SANGAT KOMPLEK sehingga sebuah perusahaan multinasinal tidak dapat menyelesaikan masalah konsumen dalam lebih singkat?

William Winata
wwinata2000@yahoo.com


Hati-hati dengan Sales PT. Ikha Prasetya (Save Cos)

Kejadiannya sudah lama sekitar akhir Nopember tahun kemaren. Saat itu sekitar jam 11 datang 2 orang sales bernama Vicka dan temannya. Mereka semula mengaku sebagai petugas surveyor listrik tapi ternyata ujung-ujungnya mereka jualan alat penghemat listrik Save Cos dari PT. Ikha Prasetya seharga Rp 200.000,-.

Kini sudah beberapa bulan dipakai dan ternyata alat ini tidak seperti yang dijanjikan. Kalaupun tagihan turun juga karena memang sering terjadi pemadaman listrik.

Yang saya sesalkan saat menjual dibumbui dengan banyak penipuan:

  • Masak dia menyebut singkatan WBP di struk PLN sebagai Warga Bermasalah dengan PLN padahal itu kan artinya Waktu Beban Puncak.
  • Dia mengklaim akan ada kenaikan TDL mulai Desember dan ternyata mulai Desember tidak ada kenaikan TDL setelah saya klarifikasi ke kantor PLN.
  • Dia juga mengklaim kalau mulai Desember akan ada pemasangan alat ini menyeluruh oleh PLN kepada semua pelanggannya padahal setelah saya klarifikasi ke PLN tidak ada program semacam itu. Dia menggunakan alasan-alasan itu hanya supaya barangnya laku. Karena itu nantinya alat itu akan dijual seharga 1 jutaan tapi sekarang ada diskon sehingga cuma dijual Rp 200 ribu. Setelah saya search di internet ternyata harga pasarannya emang cuma 200 ribu.
  • Dia mencatut nama seorang pejabat PLN yang sudah membuat program jualannya itu. Setelah saya klarifikasi ke kantor PLN ternyata nama itu tidak ada.
  • Alat itu sangat ringan padahal kata petugas PLN yang asli cukup berat. Saya tidak tahu apakah alat yang dijual itu abal-abal.
  • Dia mengaku alat itu komponennya dari Kanada dan dirakit ITS Surabaya.

Susilo Ahmadi
susilo2005@telkom.net

Tolong Kembalikan Layanan Internet XL Saya

Tanggal 18 Februari kemaren hari terakhir masa aktif XL internet saya.

Malam hari sekitar jam 23 saya suruh saudara mengisikan via ATM. Ternyata saudara saya salah pencet opsi Explore dan bukan Bebas, keluar prinout dari ATM. Keesokan paginya kartu saya diblokir alasannya pulsa tidak masuk.

Akhirnya saya bawa ke galeri XL buat klarifikasi dan di sana pulsa saya dimasukan 100 rb tapi tetap aja layanan internetnya diblokir sampai sekarang. Saya sudah mengadu berkali-kali via email tapi sampai sekarang layanan internetnya masih belum bisa digunakan.

Susilo Ahmadi
susilo2005@telkom.net


Pelayanan Dakota yang Sangat Mengecewakan

Tanggal 5 Maret saya dapat kiriman dari Tangerang. Sudah 1 minggu kiriman tidak ada kabarnya apakah sudah sampai di tempat saya atau belum. Akhirnya saya minta no resi kepada pengirim di Tangerang.

Karena susah dihubungi saya datangi langsung datang ke kantor Dakota Jember kemaren (12 Maret) jam 9. Saya tanyakan ke petugasnya apakah kiriman sudah datang atau belum. Ternyata setelah dilacak kiriman sudah datang kemaren. Saya tanyakan apakah kiriman sudah dikirim ke alamat?

Petugasnya bilang mobil udah berangkat. Akhirnya saya pulang dan saya tunggu di rumah. Eh, sampai jam 13.00 masih belum muncul juga itu mobil dan kirimannya. Saya datangi lagi kantor Dakota dan petugasnya beralasan ban mobil bocor dan masih ditambal. Ya udah saya minta supaya barang saya ambil sekarang. Ternyata barang masih di dalam box mobil dan tidak bisa dikeluarkan karena kunci mobil box dibawa sopirnya dan tidak tahu kemana sopirnya.

Karena saya tidak bisa menunggu akhirnya saya tinggal melakukan aktivitas lainnya. Sebelumnya saya minta kepada petugasnya jaminan dikirim hari ini. Jam 16 saya telpon petugasnya apakah barang sudah dikirim ke alamat? Katanya sudah. Saya tunggu di rumah sampai malam ternyata enggak datang juga itu barang sampai sekarang (pagi ini).

Gimana nih Dakota? Saya merasa dipermainkan. Kalau memang enggak bisa ngasih jaminan dikirim hari itu gak usah janji macam-macam daripada mengecewakan pelanggan seperti ini. Yang pasti saya merasa sangat kecewa sekali…

Susilo Ahmadi
susilo2005@telkom.net


Tanpa Sistem Perlindungan Citibank, Nasabah jadi Rugi Sepihak

Dalam surat ini, saya ingin menginfokan kepada pengguna kartu kredit Citibank agar berhati-hati.

Pada 5 April 2009 kartu kredit Citibank kakak saya telah dicuri orang. Kami segera memblokir kartu tersebut namun pencuri lebih cepat (hanya berselang kurang lebih 15 menit), kartu sudah terpakai sebanyak 2x pada sebuah toko optik yang masing-masingnya sebesar Rp 3.500.000 dan Rp 6.679.000 dan masing-masing berbeda tandatangannya dan berbeda juga dengan tandatangan yang tertera di belakang kartu kredit. Setelah kami tahu kartu tersebut sudah terpakai, kami mencoba menghubungi Citibank untuk menanyakan penyelesaian masalah ini namun tidak disambut baik. Sangat sulit sekali untuk bertatap muka langsung dengan pihak Citibank, alasan mereka adalah tidak ada layanan untuk bertatap muka langsung, keluhan hanya dapat dilakukan melalui telepon. Kami berusaha meminta agar Citibank tidak membayarkannya kepada toko tersebut.

Namun tidak dikabulkan dan kami tentu saja tidak bersedia menanggung beban tersebut. Akhir cerita, hutang tersebut sudah berbunga sebesar kurang lebih 50% dalam periode kurang dari 1 tahun (total tagihan sampai saat ini menjadi 15 jutaan) dan kami ditelepon dan didatangi oleh pihak Citibank dengan kata-kata kasar dan makian agar kami melunasi hutang tersebut.

Kami lelah dicacimaki terus menerus, akhirnya kami mempunyai itikad baik untuk ikut membantu Citibank menanggung kerugian tersebut, namun Citibank hanya bersedia memberikan keringanan sebesar 30% dari 15 juta sehingga total yang harus dibayar sebesar Rp 11.007.500 dimana malah lebih besar dari jumlah yang dicuri (Rp 10.179.000), saya merasa hal ini tidak adil karena Citibank malah mengambil keuntungan atas musibah nasabahnya dengan membebankan bunga tersebut. Citibank benar-benar tidak menghargai maksud baik kami, mereka malah menekan dan mengambil keuntungan dari hal ini.

Susah sekali untuk memperoleh keadilan di negara ini dan akhirnya kami terpaksa menyetujui permintaan Citibank tersebut.

Hal-hal yang bobrok dari Citibank adalah :

  1. Citibank tidak melakukan konfirmasi kepada pemilik kartu terhadap transaksi yang tidak wajar (dalam jumlah besar).
  2. Citibank mengijinkan transaksi-transaksi yang berpola mencurigakan, yaitu kartu dibelanjakan berkali-kali pada waktu yang tidak sampai 5 menit dan hari yang sama, pada satu merchant yang sama dan langsung menghabiskan limit yang tersedia, padahal tanda tangan di bukti transaksi berbeda dengan tanda tangan pemilik kartu yang tertera di balik kartu kredit.
  3. Citibank sangat tidak profesional, melepas tanggungjawab dan berusaha menghindar untuk bertatapmuka langsung terhadap nasabah yang mempunyai keluhan.
  4. Citibank memeras nasabah dan mengambil keuntungan (membebankan bunga) dari kejadian yang menimpa nasabahnya.

Bukankah ada peraturan:

  • Pasal 3 b(3) yakni :dalam hal BANK telah melunasi sales draft yang di ajukan merchant atas transaksi tersebut di atas ;maka Bank berhak menuntut kembali pembayaran yang telah di lakukan untuk pelunasan SALES DRAFT tersebut ( CHARGEBACK)dan MERCHANT berberkewajiban mengembalikan pembayaran kepada Bank .
  • Pasal 7 (d) yakni : bila BANK ternyata dapat membuktikan secara pasti dan berdasarkan bukti bukti yang kuat bahwa card tersebut benar benar palsu, curian atau diperoleh sebagai hasil dari suatu tindak pidana dan merchant dan /atau keluarga dan /atau pegawai pegawainya terlibat dalam penggunaan Card tersebut ,Bank berhak melakukan penagguhan pembayaran ) sehingga dalam hal ini saya sebagai korban dan pihak citibank tidak di rugikan

Namun peraturan tersebut tidak berguna karena Citibank ingin mengambil keuntungan dari Nasabah. Jika mereka menuntut ke Merchant, maka mereka tidak akan mendapatkan keuntungan tapi malah kehilangan sumber penghasil keuangan mereka.

Benar-benar sangat kami sesalkan, kami adalah pemegang kartu kredit Citibank tanpa catatan buruk selama belasan tahun namun dikecewakan seperti ini dan Citibank yang merupakan bank besar bisa melakukan hal tersebut.

Hal ini akan sangat banyak merugikan dan meresahkan semua nasabah yang mempunyai kartu kredit jika kartu kredit tersebut dapat dipakai oleh siapapun tanpa melihat atau mencocokkan tandatangan pada slip transaksi dengan tandatangan pemiliknya sedangkan Bank melepas tanggung jawab dan malah mengeruk keuntungan.

Perlakuan Bank yang seperti itu harus kita waspadai karena secara tidak sadar mereka mendukung aksi kejahatan pencurian kartu kredit.

Melihat pengalaman kasus ini, Anda bisa bayangkan jika Anda sebagai pemilik kartu kredit Citibank yang berlimit besar pasti akan selalu merasa was-was. Dan dengan adanya kejadian ini, saya rasa lebih baik tidak menggunakan kartu kredit dari Bank manapun.

Imelda – Email

Kartu Matrix Indosat Tidak Dapat digunakan Lagi Karena Sudah digunakan Orang Lain

Awalnya kartu matrix yang merupakan pascabayar dengan nomor 0816772266 atas nama saya pribadi telah terblokir karena keterlambatan pembayaran. Akhirnya kartunya benar benar tidak bisa dipakai sehingga saya harus ganti kartu dan membayar tagihan saya.

Bulan maret, lupa tanggal berapa saya datang ke galeri INdosat di Blok M Plaza dengan maksud membayar sekalian mengaktifkan kembali kartu saya. Tapi Customer Servicenya bilang saya harus membayar tagihannya terlebih dahulu sedangkan kartunya tidak bisa langsung di ambil alias menunggu konfirmasi terlebih dahulu lewat telp kapan saya bisa ambil kartunya dan tempatnya adalah harus di galeri Blok M.

Berhubung kondisi yang tidak memungkinkan untuk pergi (karena hamil tua) dan saya juga melahirkan bulan april, alhasil saya tidak bisa mengambil kartu tersebut. Hingga akhirnya bulan September saya kembali ke galeri Indosat Blok M, tapi ternyata galerinya sudah tidak ada alias pindah.

Saya langsung inisiatif telp call center untuk memastikan kartu saya ada di galeri mana. Jawaban call center adalah bahwa saya bisa ambil di galeri mana saja. Baru tanggal 29 Oktober 2009 saya ambil kartu saya di Galeri Indosat Sarinah. Sebelumnya saya ditanyakan identitas oleh frontliner mengenai kartu matrix saya tersebut dan ternyata memang nomor tersebut masih milik saya karena accountnya masih data2 saya.

Setelah menunggu antrian saya bertemu dengan customer service yang bernama Firman, saya ceritakan maksud saya. Setelah saya bayar biaya pengaktifan dan isi form saya langsung dapatkan kartu matrix yang diberitahukan akan aktif kembali dalam 2-3 hari kemudian.

Besoknya tanggal 30 Oktober 2009 tiba2 saya di telpon oleh Firman CSR Galeri Sarinah yang memberitahukan bahwa matrix saya dengan nomor tersebut telah dimiliki oleh orang lain. Jadi saya tidak dapat kembali menggunakan matrix saya.

Haloooo INDOSAT, kemana ajah. Kenapa saya tidak di konfirmasi kalau matrix saya mau dipakai oleh orang lain? kenapa pada saat saya telp ke Call center saya diberitahukan bahwa kartu saya masih merupakan data2 saya. Kenapa pihak galeri blok m ataupun call center tidak memberitahukan pembatasan waktu untuk pengambilan kartu?

Saya datang ke galeri sarinah mengurus kartu saya dengan lancar tidak ada kendala, sudah bayar biaya pengakitfan pula dan jelas jelas matrix dengan nomor tersebut masih menggunakan data2 saya yang artinya memang milik saya, kok tiba2 besoknya saya di telp Bapak Firman galeri sarinah, bahwa nomor tersebut sudah digunakan orang lain sejak 2 minggu yang lalu.

Beginikah pelayanan indosat yang merupakan salah satu jaringan telekomunikasi terbesar di indonesia? SUNGGUH SANGAT MENGECEWAKAN.

Rita Fiani
rita_fiani@yahoo.com