Sangobion Bahaya? Surat Pembaca Kompas 25062008
Kepada Yth,
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM)
Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS, M.Kes.,Sp.K
Kantor Badan POM Jakarta
Kandungan utama dalam Sangobion adalah Ferrous Gluconate 2 hydrate, dan baru-baru ini PT. Merck Tbk mengganti supplier mereka dari supplier Jerman menjadi Supplier Asia untuk bahan kimia ini dengan alasan harga yang lebih murah.
Penghematan yang didapat Merck dari penggantian ini sangat banyak, kemungkinan mencapai 1 milyar Rupiah per tahun. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan pergantian dari perusahaan Jerman yang memiliki reputasi dengan sebuah supplier dari India atau Cina dapat memastikan spesifikasi produk dan
keselamatan konsumen yang sama?
Terlampir adalah surat dari 2 orang konsumen independen yang mengajukan komplain mengenai timbulnya bercak hitam pada gigi anak mereka setelah mengkonsumsi Sangobion. Mungkinkah penyebabnya Sangobion, kemungkinan karena adanya kontaminasi dari kandungan utama Sangobion itu sendiri. Sangat memungkinkan.
Kasus mengenai kontaminasi dari hati yang tercemar (tainted heparin) dari Cina menunjukkan betapa seriusnya masalah yang ditimbulkan oleh kontaminasi. Di Amerika 4 orang meninggal dunia dan lebih dari 350 orang mendapatkan reaksi alergi yang diakibatkan oleh hati yang tercemar yang dijual oleh supplier dari Cina (Asian Wallstreet Journal, halaman 1, 22 Februari 2008). Walaupun telah dilakukan tindakan pengamanan, bahkan Badan POM Amerika (American FDA) mengalami kesulitan dalam memastikan kualitas bahan baku yang berasal dari negara-negara seperti Cina, dikarenakan sulit untuk mengaudit mereka.
Yang lebih menarik lagi dari kasus Sangobion adalah pada Laporan Tahunan Merck Jerman tahun 2007 telah dilaporkan tentang adanya masalah persediaan Sangobion di Indonesia yang memberikan pengaruh negatif pada bisnis Sangobion di tahun 2007 (Merck KgaA, Jerman, Annual Report, halaman 52). Apakah bercak hitam yang timbul pada gigi anak Indonesia ada hubungannya dengan masalah tersebut, dan apakah mereka kemudian menjadi “bercak hitam” bagi Merck Tbk?
Orang hanya bisa berharap demi kepentingan kesehatan konsumen, akan ada yang melakukan investigasi menyeluruh dan netral untuk mengklarifikasi hal ini, misalnya saja dari Badan POM. Seperti surat yang terlihat, sepertinya Merck sendiri tidak bersedia ataupun tertarik untuk memberikan komentar mengenai
kasus-kasus ini…
Rudy Tanjung
DrRudy_M_Buka@hotmail.com
Tidak ada komentar