Karyawan Carrefour Duta Merlin Tidak Diajarkan Peri Kemanusiaan

Pagi ini, Jumat: 31 Oktober 2008, saya terburu-buru untuk mencari ATM BCA deket kantor (Duta Merlin), kebetulan untuk transfer temen saya yang membutuhkan dana untuk rumah sakit pagi ini. Biasalah, di negeri ini, kalo gak ada jaminan dana masuk, orang yang meregang nyawa di rumah sakit pun gak diurusin sebelum ‘mata hijau’ mereka terpenuhi oleh jumlah rupiah.

Singkat kata, saya mau membantu agar urusan di rumah sakit bisa langsung di urus, tapi sial, satu2nya ATM deket kantor rusak, yang hidup cuma satu, tapi antriannya? puanjaaaaaaaaannnggg!

Dalam hati bergumam : “kasihan sahabatku menunggu terlalu lama, kalau saya mengantri cukup jauh….”

Lalu saya inget, kan ada atm BCA lain yang berada di wilayah Carefour Duta Merlin juga, berjalan kaki pun hanya berapa detik. Bergegaslah saya berjalan ke arah pintu masuk Carrefour Duta merlin yang sudah terbuka pintunya, dengan suasana mereka sedang menikmati radio swasta (dalam hal ini mereka lagi dengerin radio tempat saya bekerja, duh!).

Saya tahu dan melihat Carrefour-nya sendiri memang belum dibuka, tapi saya memiliki secercah harapan karena ATM itu berada di area mereka yang tidak jauh dari tempat saya berdiri (karena mau masuk).

Tiba-tiba seorang security (yang gak tahu mencoba menjilat siapa) mencoba garang sama saya, “Maaf mas gak boleh masuk, belum buka”.

Lalu saya jawab: ” Oh maaf mas, saya butuh transfer buat ke rumah sakit, bisa bantu saya sebentar? toh saya gak masuk area belanja carrefor yg memang masih tutup?”.

Dengan mencoba mengusir, dia bilang:

“Gak bisa! Baru buka nanti jam setengah sembilan”

Dalam hati, sekali gw banting juga jatuh nih satpam, bukan sombong sihh….

Lalu saya melihat mesin ATM yg sudah keliatan mata dan jaraknya cuma berapa kaki dari tempat saya dihadang…

“Kalu bapak dampingi saya gimana? please saya butuh bantuan anda….” belum sempat direspon, datang lagi pria berkacamata berkemeja biru (kayaknya sih supervisor yang bertugas pagi itu)..

Saya pikir bakal dibantu gak taunya sama aja…
“Gak bisa mas nanti jam setengah sembilan aja…”

Karena saya mikirin temen yang udah menjerit2 butuh bantuan… saya juga sedikit emosi

“Mas gak punya peri kemanusiaan yaahh…. ini buat nyawa org… saya bukan mau mencuri kok, anda bisa nganter saya, sedikit fleksibel lah….”

Eh tuh supervisor yang bejat rasa kemanusiaannya kukuh jawab :
“Ya ya tetep mas setengah sembilan aja! ”

Lalu saya pergi dengan perasaan teriris… dan saya gak bakal belanja hari minggu sama istri di situ lagi!

Teriris karena Pancasila yang udah saya pelajari dari kecil emang ternyata gak ada…! Kita kalah oleh ‘ke-kaku-an’ peraturan dari atas. Dan lupa akan ajaran dari sebuah agama tentang membantu sesama manusia…

Kita memang harus mematuhi peraturan, tapi gw rasa dengan kasus ini masih bisa fleksibel, untuk apa pintu mereka dibuka lebar2? Agar bisa denger ‘speaker tape’ mereka yg butut??

Selayaknya, kalo mereka diajarkan ‘Public Relation’ soal pelayanan yang baik, perintahkanlah satu orang karyawannya untuk menemani saya ke mesin ATM, paling enggak itu jaminan bahwa saya memang ke atm yg jaraknya hanya berapa langkah lagi…. itu baru pelayanan!

Maklumlah saat ini pusat belanja besar memang hanya mereka satu2nya (walau ada sih yg lainnya)…. seperti kasus HERO dulu, disaat belum ada persaingan, mereka begitu congkaknya…lalu ketika muncul yang lain, mereka seperti macan ompong….

Sekarang Carefour satu2nya?

Saya hanya berharap…agar akan ada saingan Carrefour yang banyak lahir lagi dan lebih jaya lagi, serta punya karyawan yang memiliki pelayanan yang berkwalitas!

…bukan seperti mereka karyawan bebal gak punya rasa iba…milik Carrefour Duta Merlin.

‘thanx god you gave me a great job right now! so i can help even a people’!

Regard’s
Irly Dante Irwansyah
PR Manager & Off Air Promotion
105.8 LITE FM Jakarta
www.litefmjakarta.com

Carrefour di Bali Beda Standar?

Sebelum kami sekeluarga pindah ke Bali, kami lahir dan besar di Bandung. Di Bandung, kami biasa berbelanja di Setiabudi Supermarket. Mengapa? Setiabudi Supermarket adalah supermarket terbaik yang pernah kami temui di Bandung. Harganya sedikit lebih mahal jika dibanding supermarket lain, apalagi hypermarket. Tetapi saking nyamannya berbelanja disana, kami mau menyisihkan uang lebih untuk mendapatkan kenyamanan itu.

Selama tinggal di Bandung, kami menolak berbelanja di Hypermart, Carrefour dan Giant, karena setiap berbelanja disana, rasanya tekanan darah selalu naik dan bisa jadi mengarah pada penyakit jantung. Alasannya satu. Continue reading